Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain rishi dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/katakars/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Seminar Kolaborasi Universitas Sanata Dharma dan Sophia University: Mengenal Gurindam, Sastra Klasik Indonesia - KataKarsa

Seminar Kolaborasi Universitas Sanata Dharma dan Sophia University: Mengenal Gurindam, Sastra Klasik Indonesia

Universitas Sanata Dharma dan Sophia University, Jepang, mengadakan seminar kolaborasi pada Kamis, 4 September 2025. Presentasi yang dilaksanakan di Ruang Seminar Gedung LPPM ini bertema “Mengenal Gurindam”. Seminar ini juga dipandu oleh dua rekan dari Lembaga Bahasa.

Acara diawali dengan perkenalan mahasiswa dan dosen dari Sophia University, Jepang, lalu mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma. Mahasiswa dari Sophia University mengawali pagi dengan pergi ke Malioboro dan pasar tradisional sebelum kembali ke Universitas Sanata Dharma untuk mengikuti seminar ini.

Seminar kolaborasi ini diadakan setiap tahun dengan memilih satu bentuk karya sastra untuk dibagikan kepada mahasiswa-mahasiswa Sophia University. Tahun ini, pembawa materi mengambil bentuk karya sastra gurindam sebagai tema besar.

Presentasi pengenalan gurindam dipaparkan oleh tiga mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma, yaitu Salma, Bene, dan Lin Lin. Presentasi serupa juga dilakukan tahun lalu dengan tema pantun.

Ketiga pemateri memaparkan dengan sederhana tentang definisi gurindam, struktur, ciri-ciri, maupun contoh dari gurindam itu sendiri. 

Gurindam merupakan salah satu cara untuk mendidik dan memberi nasihat berupa ajaran-ajaran agama dan moral.

Setelah pemaparan singkat tentang gurindam, peserta dibagi menjadi empat grup diskusi beranggotakan empat sampai lima orang. Dalam grup kecil ini pemateri memberikan satu soal diskusi di mana peserta harus menebak mana yang adalah gurindam dan mana yang bukan, berdasarkan ciri-ciri dan struktur gurindam. Mahasiswa Universitas Sanata Dharma dan Sophia University banyak berdiskusi dalam kelompok kecil, bahasa tidak menjadi penghalang.

Sebagai kegiatan akhir, setiap kelompok ditugaskan untuk membuat satu buah gurindam lalu dipresentasikan kepada para peserta. 

“Aku merasa ini (gurindam) sangat menarik. Di Jepang kami juga memiliki hal yang serupa, yaitu kotowaza. Sama seperti gurindam, kotowaza juga mengajarkan kita hal-hal penting dalam kehidupan, sama seperti gurindam,” papar Sasano, salah satu mahasiswa dari Sophia University.

Salah satu mahasiswa lain, Sayaka, dari Sophia University juga menambahkan, “Dalam kotowaza juga terdapat sebab dan akibat seperti gurindam. Hal ini menjadi salah satu persamaan bahasa Indonesia dan bahasa Jepang.”

Baca Juga: Empat Rekomendasi Film Animasi Penuh Makna untuk Anak-anak

Kedua perwakilan mahasiswa dari Sophia University juga sepakat bahwa Yogyakarta sangat menarik dan berbeda dengan Tokyo, mulai dari candi-candi yang mereka kunjungi sampai keramahan masyarakat Yogyakarta. 
Salah satu mahasiswa Sastra Indonesia yang memberikan presentasi, Salma, menjelaskan secara singkat mengenai topik utama tahun ini, “Tahun lalu seminar ini udah ada dan membahas pantun, jadi kami berpikir bahwa walaupun mahasiswanya berbeda tapi dosen-dosennya kemungkinan sama, jadi kami mau ngasih suasana baru selain pantun, karena biar materinya ada perbedaan antara tahun lalu dan yang sekarang. Kenapa spesifiknya gurindam? Sebenarnya karena gurindam itu kan salah satu sastra klasiknya Indonesia, jadi itu lebih autentik Indonesia.”

“Kalau untuk rencana seminar dengan mahasiswa ini diadakan dua kali, pertama dengan mahasiswa PBSI, terus minggu ini dengan mahasiswa Sastra Indonesia dan PBI. Rencana ini sudah diadakan dua kali, yaitu tahun 2024, dan ini yang kedua kali. Untuk tahun depan rencananya akan tetap ada. Rencana ini kalau sama Sophia (University) nggak cuma seminar aja. Mereka juga ada jalan-jalan ke Borobudur atau ke Pasar Beringharjo. Ada juga kegiatan lain kayak membuat batik atau belajar gamelan juga. Salah satunya belajar sama mahasiswa Indonesia, membahas tentang budaya kita,” tambah Hanako, salah satu staf pengajar Lembaga Bahasa yang memandu jalannya acara.

Editor: Helena Setiasari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *