Memasuki hari keempat, Kamis (29/10/26), Pekan Sastra kembali menggelar workshop bersama The Tribes sebagai program kerja Bengkel Jurnalistik. Acara ini dimulai pada pukul 16.30 WIB. Kegiatan ini berlangsung di Ground Gedung Sastra, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Kegiatan ini terbagi menjadi dua sesi.
Sesi pertama berupa Focus Group Discussion (FGD) yang mengambil tema mengenai “Homeless Media dan Penyebaran Hoaks”. Homeless media diibaratkan sebagai media tanpa rumah. Homeless media terbagi menjadi dua jenis: yang memiliki kode etik, dan yang mengutamakan kecepatan merespons suatu isu, biasanya dalam bentuk opini.
“Homeless media itu sebenarnya punya kecepatan yang harusnya lebih cepat merespons sesuatu, ya bentuknya berupa opini. Dan itu gimana caranya menanggapi supaya kita lebih aware tentang penyebaran hoaks ini,” jelas salah satu anggota The Tribes.
Baca Juga:Agus Mulyadi Membeberkan Bumbu Kreatifnya pada Pekan Sastra Sadhar 2026
Dalam sesi ini tim The Tribes melibatkan para peserta untuk berdiskusi dalam beberapa kelompok terkait persoalan homeless media dan cara mengatasi penyebaran hoaks. Sesi ini berhasil menarik antusias dari peserta yang hadir dalam sesi diskusi tersebut karena sesi ini tidak hanya berbicara soal media, tetapi juga melatih berpikir kritis dan menambah wawasan dari sesi diskusi tersebut.
“Menurut aku forum diskusi tadi lumayan menambah pengetahuan, apalagi istilah homeless media baru kudengar. Forum ini sangat membantu aku untuk menghindari hoaks,” ungkap Iwa.
Peserta lain, Mutia, merasa forum ini membuka ruang bertukar pikiran.
“Di diskusi ini, aku jadi punya kesempatan diskusi sama teman-teman yang lain,” ujarnya
Arjen, peserta lainnya, mengaku mendapat pemahaman baru.
“Yang saya dapatkan tadi tu bagaimana kita membuat batas tentang berita dan bagaimana kita menanggapi suatu permasalahan ketika forumnya bukan dari pers yang resmi. Saya sangat senang karena kita bisa menyampaikan pendapat melalui diskusi dan juga mendapatkan materi yang sangat bermanfaat, terlebih khusus ketika kita menjadi jurnalis,” tambahnya.
Sesi kedua, mengambil tema berupa “Bincang Geliat Media Alternatif dan Sharing Perjalanan The Tribes.” Sesi ini dimulai pada pukul 18.30 WIB, yang dipandu oleh Bima, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2025, dengan pembicara Yodan Pranata yang sering dijuluki ‘ketua kelas’ The Tribes.
Sesi ini dibuka dengan kisah inspiratif dari Yodan mengenai perjalanannya mendirikan media alternatif. Menariknya, ia mengaku sama sekali tidak memiliki latar belakang jurnalis, melainkan dunia bisnis sebuah bidang yang membuat bidang jurnalistik terasa tidak familier. Meski demikian, langkah awal pendirian The Tribes justru terinspirasi kuat dari semangat dan gaya bertumbuh media digital populer seperti Close The Door dan Vindes.
“Gabut. Dulu saya basic-nya pengusaha. Saya bukan dari media, bukan jurnalis. Media sebuah industri baru bagi saya,” tuturnya.
Menurut Yodan, The Tribes bermula dari obrolan tongkrongan tentang politik pada 2024. Obrolan itu direkam menjadi podcast hanya dengan kamera ponsel dan tripod, dan langsung ramai. Melihat peluang itu, ia mulai menggarapnya dengan serius dan memperluas bahasan ke sosial budaya.
Ia juga menjelaskan bahwa konten yang dibuat The Tribes mempunyai harapan bukan dari jumlah penonton tetapi dari jumlah audiens yang percaya terhadap konten mereka.
“Sekarang bukan hanya berapa banyak yang nonton, tetapi berapa banyak yang percaya,” tegasnya.
Setiap konten The Tribes juga melewati proses panjang, mulai dari pembagian tugas tim media kreatif hingga ditinjau pemimpin redaksi sebelum tayang.
“Ribet, tetapi keribetan itu harus dilakukan,” katanya.
Di sesi akhir, Yodan menyampaikan pesan untuk mahasiswa. Ia menekankan bahwa kesalahan bukan alasan untuk berhenti mencoba, sebab rasa takut salah sama saja dengan takut untuk sukses.
“Kalian mahasiswa itu saat-saat ga takut untuk salah, takut untuk salah itu sama saja kalian takut untuk sukses. Jadi bagi teman-teman, apa pun yang kalian suka, silakan coba.”
Pesan ini menjadi penyemangat bagi mahasiswa untuk berani mencoba hal-hal baru, selama ada niat dari diri sendiri.
Editor:Felix
Thumbnail: Dokumentasi Bengkel Jurnalistik















