Membaca Cerita Lewat Lensa: Workshop Fotografi Bengkel Jurnalistik Bersama Andreas Fitri Atmoko

Bengkel Jurnalistik (Bengjur) menyelenggarakan workshop fotografi bertajuk “Merekam Fakta, Menceritakan Dunia” pada Sabtu, 15 November 2025, di ruang kelas S.308, Gedung Sastra (Gedsas), Universitas Sanata Dharma (USD).

Bengkel Jurnalistik (Bengjur) menyelenggarakan workshop fotografi bertajuk “Merekam Fakta, Menceritakan Dunia” pada Sabtu, 15 November 2025, di ruang kelas S.308, Gedung Sastra (Gedsas), Universitas Sanata Dharma (USD). Kegiatan ini menghadirkan Andreas Fitri Atmoko, seorang fotografer jurnalistik di ANTARA, sebagai narasumber untuk membagikan teknik dan wawasan mengenai cerita di balik foto.

Dalam pemaparannya, Andreas menjelaskan bagaimana sebuah foto dapat memiliki kekuatan naratif melalui pemilihan momen, komposisi, dan cahaya. Ia menunjukkan beberapa karyanya dan mengajak teman-teman Bengjur memahami apa yang membuat sebuah foto mampu “berbicara”. Peserta juga diberi kesempatan untuk praktik foto dari unsur Entire, Detail, Frame, Angle, dan Time (EDFAT), serta membuat caption dengan unsur-unsur 5W + 1H, yaitu What, Why, When, Who, Where, dan How

Tak hanya itu, Andreas juga mengingatkan teman-teman Bengjur bahwa foto jurnalis bukan hanya hasil karya seorang fotografer, melainkan juga buah dari proses mencari tahu informasi dan data. Jurnalis foto harus memahami konteks, melakukan riset lapangan, dan memastikan setiap gambar memiliki kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. 

Peserta kemudian dibagi ke dalam lima kelompok yang beranggotakan dua orang untuk berdiskusi dan membuat rencana fotografi. Mereka diminta menentukan fokus isu, subjek, serta pesan yang ingin disampaikan melalui serangkaian foto sebelum praktik pemotretan. Andreas turut membimbing proses tersebut, mendorong peserta agar mampu mengombinasikan sudut pandang teknis dengan kejelian membaca peristiwa.

Baca juga: Mengasah Pena dan Logika dalam Workshop Penulisan Jurnalistik

Workshop ditutup dengan sesi diskusi dan presentasi mengenai hasil karya yang telah mereka buat dalam waktu satu jam. Terdapat beberapa masukan atas karya yang ada, seperti kurangnya angle untuk memotret suatu objek, terdapat ruang kosong pada foto yang lebih baik di-crop, dan segi komposisinya.

Andreas berpesan agar teman-teman lebih memperhatikan terkait komposisi garis, warna, dan bentuk. “Foto kan dua dimensi ya, jadi kalau ada garis-garis bisa membuat kedalaman fotonya,” ucapnya. Konsep golden ratio untuk memotret juga dapat dipakai untuk menambah nilai estetika pada fotografi jurnalistik.

Tak hanya itu, ternyata perpindahan tempat dalam mengambil gambar juga berpengaruh terhadap kenyamanan melihat bagi penikmat karya. “Dari karya yang tadi dikumpulkan sudah baik, mungkin untuk ke depannya dapat diperhatikan terkait komposisi dan point of interestnya,” tambahnya. 
Andreas juga berpendapat bahwa sebuah foto jurnalistik tidak hanya berfokus pada fotonya saja, tetapi juga dari segi caption yang menarik. “Ya sama seperti yang saya bilang, seorang fotografer jurnalistik juga harus bisa menulis. Makanya tadi saya selalu menekankan tentang menulis. Melalui tulisan itu sebuah foto bisa berbicara,” pungkasnya.

Editor: Fransiska Meiliana Martani 

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *