,

Mahasiswa Magang Hadapi Tantangan Produksi Konten SEO di Tribun Jogja

Yogyakarta – Pengalaman magang di Tribun Jogja membawa perubahan pandangan karier bagi Benedicta Fayola, mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma yang selama tiga bulan ditempatkan sebagai content writer di media tersebut. Meski sejak awal bercita-cita terjun ke dunia jurnalistik, mahasiswi yang akrab disapa Bene ini mengaku kini tertarik memilih divisi kerja yang berbeda bila kelak…

Yogyakarta – Pengalaman magang di Tribun Jogja membawa perubahan pandangan karier bagi Benedicta Fayola, mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma yang selama tiga bulan ditempatkan sebagai content writer di media tersebut. Meski sejak awal bercita-cita terjun ke dunia jurnalistik, mahasiswi yang akrab disapa Bene ini mengaku kini tertarik memilih divisi kerja yang berbeda bila kelak bekerja di industri media.

Bene memilih Tribun Jogja sebagai lokasi magang karena sudah mengenal lingkungan redaksinya. Ia pernah berkunjung ke kantor media tersebut dalam kegiatan kampus. Selain itu, lokasinya dekat dengan tempat tinggalnya dan ada kontak person yang memudahkan pengajuan magang.

Selama magang, Bene bertugas memproduksi artikel berorientasi Search Engine Optimization (SEO) yang ditujukan untuk meningkatkan jumlah pembaca. Mayoritas tugas hariannya berfokus pada konten feature.

“Tantangan terbesarnya itu writer’s block. Ada ketentuan membuat lima topik berbeda, sementara kosakata nggak boleh sama. Jadi harus kreatif setiap hari,” ujarnya.

Untuk mengatasinya, ia menyusun strategi dengan memvariasikan sudut pandang dan gaya penulisan agar setiap artikel tetap berbeda dari tulisan sebelumnya. Pendekatan itu membuatnya lebih terlatih memahami ritme produksi konten digital yang cepat.

baca juga : Mahasiswa dari Pakistan Kuliah Sastra Indonesia untuk Mewujudkan Cita-Cita Menjadi Penerjemah Buku

Bene mengaku mendapatkan umpan balik rutin dari pihak Tribun. Kritik yang paling sering diterima berkaitan dengan jumlah pembaca dan daya tarik konten. “Biasanya dibilang, ‘Bene kamu kurang viewers, beritanya kurang menarik’. Lalu diajarin gimana bikin konten yang lebih menarik perhatian,” katanya.

Meski demikian, pengalaman itu justru memperjelas arah kariernya di bidang media. Ia menegaskan tetap ingin bekerja di industri jurnalistik, tetapi bukan pada divisi yang sama dengan posisi magangnya.

Editor : Helena Setiasari

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *