Waktu boleh berlalu, tetapi tidak semua luka ikut sembuh bersamanya. Ada kesalahan yang terus diingat, penyesalan yang sulit dilepaskan, dan hubungan yang terlanjur renggang.
Kita mungkin bisa melanjutkan hidup setelah kehilangan seseorang, namun bukan berarti kita sudah benar-benar berdamai dengan apa yang terjadi. Terkadang, hal paling sulit bukanlah menerima kenyataan, melainkan memaafkan diri sendiri dan orang lain yang terlibat.
Persoalan inilah yang menjadi inti cerita dari Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, sebuah karya yang disutradarai oleh Rizal Mantovani yang menghadirkan genre horor dengan latar spiritualitas Katolik.
Di balik adegan mencekam dan ritual eksorsisme, film ini menyimpan permenungan tentang rasa bersalah, kehilangan, serta usaha manusia dalam memperbaiki hubungan yang rusak. Horor dalam film ini tidak hanya dibangun melalui sosok iblis, melainkan juga lewat bayang-bayang masa lalu yang terus menghantui para tokohnya.
Kuasa Gelap: Perjanjian Darah
Tayang sejak 8 Oktober di seluruh bioskop Indonesia dan hadir pula dalam format IMAX, film ini merupakan sekuel dari Kuasa Gelap yang tayang pada 2024 lalu. Sinematografi ciamik karya Yadi Sugandi berhasil membangun suasana mencekam yang mengiringi konflik cerita. Naskahnya ditulis oleh Robert Ronny bersama Andri Cahyadi, yang menariknya merupakan alumni dari Program Studi Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma. Selain itu, film ini diproduseri oleh Robert Ronny dan Prima Taufik, serta Andi Boediman sebagai produser eksekutif.
Untuk memperkuat penggambaran eksorsisme agar sesuai ajaran Gereja Katolik, produksi film ini juga melibatkan Romo Robini, seorang imam Dominikan di Keuskupan Agung Pontianak sekaligus imam eksorsis resmi di Indonesia, sebagai konsultan.
Hal menarik dari film ini tidak sekadar ritual pengusiran setan yang ditampilkan, tetapi bagaimana iman diuji di hadapan ketakutan, penyesalan, dan keinginan memperbaiki masa lalu.
Penyesalan yang Berawal dari Masa Kecil
Konflik utama berpusat pada Romo Rendra yang diperankan oleh Lukman Sardi dan Romo Thomas yang diperankan oleh Jerome Kurnia. Di balik tugas suci sebagai imam eksorsis, ternyata tersimpan luka lama yang membuat perjalanan mereka tidak sekadar berurusan dengan iblis.
Cerita dimulai dari kisah di sebuah panti asuhan di Surabaya, Jawa Timur. Di sana, tiga anak, yaitu Rendra, Halim, dan Yanto tumbuh bersama sebagai sahabat karib tanpa orang tua.
Suatu hari, mereka terlibat perkelahian karena latar belakang mereka sebagai anak panti asuhan diejek oleh teman-temannya.
Rendra, yang tak mampu menahan amarahnya, akhirnya memulai perkelahian yang juga melibatkan Halim dan Yanto. Namun, naasnya pertengkaran anak-anak itu berujung pada tragedi mengenaskan, yaitu Yanto meninggal dunia karena jatuh ke laut dan tenggelam di tengah perkelahian itu.
Kematian Yanto seketika merusak persahabatan mereka. Halim menyalahkan Rendra yang dinilai terlalu emosional, sementara Rendra juga menyalahkan dirinya sendiri. Hubungan mereka renggang dan rasa bersalah membebani Rendra hingga dewasa.
Bertahun-tahun kemudian, Rendra memilih jalan hidup sebagai imam. Namun, jubah keimanannya tidak otomatis membebaskannya dari bayang-bayang masa lalu. Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi cara menyikapinya sangat menentukan kehidupan di masa sekarang.
Ketika Masa Lalu Kembali Meminta Pertanggungjawaban
Setelah menyelesaikan tugas eksorsisme yang diceritakan pada Kuasa Gelap yang pertama, Romo Rendra dan Romo Thomas kembali menerima permohonan bantuan dan kali ini berasal dari Surabaya, kota masa kecil Rendra. Di sana, Rendra bertemu kembali dengan Suster Aloysius, sosok yang pernah merawatnya di panti asuhan.
Suster Aloysius meminta bantuan untuk menangani Daniel, putra Halim yang sudah mengalami gangguan aneh selama tiga bulan. Permintaan ini membuat Rendra dilema karena mengingat hubungan buruknya dengan Halim sejak kematian Yanto.
Rendra sempat menolak, tetapi akhirnya setelah melakukan pertimbangan, akhirnya dia bersedia membantu.
Saat tiba di rumah Halim, kondisi Daniel sangat mengkhawatirkan. Dia sering bermimpi buruk, bertingkah aneh, dan berubah drastis setiap pukul tiga pagi. Linda, ibu Daniel, bercerita bahwa gangguan ini bermula setelah pegawainya mengalami hal yang serupa.
Ritual eksorsisme pun dimulai. Namun, di tengah prosesi, sosok jahat yang merasuki Daniel justru mengusik batin Rendra dengan mengungkit kematian Yanto. Hal itu menimbulkan keraguan dan ketakutan Rendra kembali menguat.
Situasi makin rumit ketika Halim pulang dan menghentikan eksorsisme tersebut. Halim tak percaya anaknya kerasukan dan memilih membawanya ke dokter karena takut kehilangan anggota keluarga lagi.
“Ini bukan masalah yang bisa ditangani oleh medis, Pak,” tegas Romo Thomas.
Penolakan juga datang dari Romo Wicaksono, imam paroki setempat, yang meminta Rendra dan Thomas kembali ke Jakarta. Eksorsisme pertama pun gagal total.
Baca juga:ELITE 2026: Hadir Menjadi Warna dalam Mimpi
Penolakan terhadap Kesembuhan
Rendra, Thomas, dan Suster Aloysius tidak menyerah. Melalui catatan teologis Suster Aloysius, terungkap bahwa sosok yang merasuki Daniel adalah entitas kuno bernama Rephaim, roh purba yang telah ada sejak zaman Kristus.
Di tengah masa penantian persetujuan Halim, kondisi Daniel kian memburuk. Karena situasi mendesak dan Romo Rendra belum tiba, Romo Thomas terpaksa melakukan eksorsisme seorang diri. Upaya ini berakhir tragis dengan meninggalnya Nia, kekasih Daniel. Kejadian ini makin memicu kemarahan Halim dan Romo Wicaksono. Ketakutan dan perbedaan pandangan membuat upaya penyelamatan Daniel kian berliku.
Perjanjian Darah dan Harga Sebuah Kesepakatan
Rahasia besar keluarga Halim akhirnya terungkap saat Daniel memuntahkan ular menjelang keberangkatannya berobat ke Singapura. Terkuak bahwa gangguan tersebut merupakan dampak dari perjanjian darah yang pernah dibuat oleh Liliana, ibu mertua Halim.
Demi membangkitkan bisnis perikanan pascakematian suaminya, Liliana bersekutu dengan iblis. Sebagai gantinya, nyawa cucu pertamanya harus dijadikan tebusan saat berusia 25 tahun dan Daniel akan genap berusia 25 tahun keesokan harinya.
Keberhasilan bisnis yang dinikmati keluarga ternyata menuntut harga yang sangat mahal. Ketegangan memuncak saat Romo Wicaksono melihat munculnya akar pohon beringin di balik lukisan rumah Halim, menandakan waktu penjemputan iblis makin dekat.
Keadaan kian kacau ketika warga desa terhasut roh jahat dan menghakimi Halim. Di tempat lain, Romo Thomas harus bertarung sendirian melawan Rephaim yang akhirnya mengakui dirinya bernama Balzaroth.
Dengan keberanian dan keteguhan iman, Romo Rendra berhasil memutus ikatan perjanjian darah tersebut. Kehancuran Buah Kaladjaja sekaligus menandai musnahnya Balzaroth dari tubuh Daniel.
Namun, film ini tidak berhenti pada kemenangan atas iblis. Bagian penutup justru membawa penonton kembali pada akar konflik manusiawi, yaitu hubungan Rendra dan Halim.
Keduanya mendatangi makam Yanto dan saling memaafkan. Setelah puluhan tahun memendam kekecewaan dan penyesalan, mereka belajar menerima kenyataan bahwa masa lalu tak lagi bisa diubah.
Rendra tidak bisa menghidupkan Yanto kembali, dan Halim tak bisa menghapus dukanya. Namun, mereka bisa memilih untuk berhenti hidup dalam kemarahan. Pengampunan tidak mengubah sejarah, tetapi membebaskan masa depan dari ikatan luka yang sama.
Lebih dari Sekadar Film Horor
Kuasa Gelap: Perjanjian Darah membuktikan bahwa horor sejati bukan sekadar jump scare atau wujud iblis yang mengerikan, melainkan rasa bersalah dan penyesalan yang tidak pernah diselesaikan.
Kisah persahabatan Rendra dan Halim memperlihatkan betapa luka masa kecil yang dibiarkan dapat menjadi tembok pemisah hingga dewasa. Di sisi lain, kisah penderitaan keluarga Halim akibat ulah Liliana memberi peringatan tentang bahaya keserakahan yang membutakan mata hati.
Sebagai film berlatar spiritualitas Katolik, karya ini menekankan pentingnya iman dan sakramen dalam menghadapi kuasa kegelapan. Namun, lebih dari itu, film ini mengingatkan kita bahwa pemulihan sejati membutuhkan keberanian untuk mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memberi pengampunan.
Tidak semua orang pernah berhadapan dengan eksorsisme atau iblis. Namun, hampir setiap manusia pernah menyimpan penyesalan dan luka. Kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi dalam hidup, tetapi kita selalu punya kesempatan untuk memilih bagaimana meresponsnya.
Editor: Olivya
Thumbnail: Google















