Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain rishi dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/katakars/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Fasilitas Kampus vs Biaya Kuliah: Seimbangkah? - KataKarsa

Fasilitas Kampus vs Biaya Kuliah: Seimbangkah?

Ketika di sekolah menengah, kita sering mendengar ucapan guru bahwa sekolah adalah rumah kedua. Namun, apakah hal ini juga berlaku di kampus? 

Pada dasarnya, kampus adalah tempat bersekolah. Sekolah merupakan kegiatan menuntut ilmu. Perbedaan sekolah menengah dan perguruan tinggi terdapat pada tingkat kedalaman ilmu, pembentukan pola pikir, dan biaya.

Jika kampus bisa disebut sebagai rumah kedua, sudah seharusnya kampus adalah tempat yang nyaman. Tempat yang nyaman merupakan salah satu faktor pendukung kegiatan belajar. Lantas, bagaimana implementasi kampus yang nyaman bagi mahasiswa?

Seperti yang disebutkan di atas, biaya termasuk salah satu pembeda sekolah menengah dan perguruan tinggi. Sudah seharusnya terdapat timbal balik antara kampus dan mahasiswa, salah satunya fasilitas yang disediakan. 

Di beberapa universitas, masih ada gedung-gedung yang fasilitasnya kurang memadai. Misalnya, tidak ada AC, keran bocor, CCTV sulit diakses, kipas angin kotor, parkiran kurang luas, dan koneksi internet yang kurang stabil. Jika mahasiswa sudah membayar jutaan rupiah setiap semester, wajar jika mereka menuntut fasilitas yang layak dan modern untuk membantu proses pembelajaran. 

Hal ini berhubungan dengan transparansi penggunaan dana kampus. Beberapa mahasiswa tidak tahu ke mana perginya uang yang dibayarkan. Seharusnya, kampus berkewajiban untuk menjelaskan pengelolaan dana mahasiswa dan berapa banyak bagian yang dialokasikan untuk fasilitas. 

Baca Juga :Arus Politik Kampus di Kalangan Mahasiswa

Selain itu, kebutuhan mahasiswa Teknik tentu berbeda dengan mahasiswa Sastra atau Farmasi. Namun, tidak semua kampus melakukan pemerataan fasilitas sesuai jurusan. Kasus ini menimbulkan rasa perlakuan tidak adil pada beberapa mahasiswa dengan biaya kuliah yang sama atau lebih mahal. 

Pada dasarnya, ilmu dan pola pikir memang mahal. Dengan kata lain—konotasi buruknya—pendidikan adalah jual-beli ilmu dan pola pikir. Kita tahu bahwa ilmu dan pola pikir itu memang mahal, tetapi dalam menimba ilmu tentunya lebih mudah jika difasilitasi dengan tempat yang nyaman. 

Biaya kuliah yang tinggi seharusnya sejalan dengan layanan dan fasilitas yang diterima. Kampus harus memperbaiki sistem penganggaran dan memastikan setiap rupiah yang dibayarkan mahasiswa benar-benar kembali dalam bentuk fasilitas dan hal fungsional lainnya. 

Editor : Helena Setiasari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *