Malam Puncak Pekan Sastra 2026: Harmoni, Musik, dan Puisi.

Sabtu, 31 Oktober—Malam puncak Pekan Sastra 2026 Universitas Sanata Dharma menjadi ruang pertemuan ekspresi seni dan kolaborasi mahasiswa lintas kampus. Acara ini diselenggarakan di Ground Gedung Fakultas Sastra, menghadirkan beragam pertunjukan, mulai dari pembacaan puisi, musikalisasi puisi, hingga penampilan band yang melibatkan mahasiswa lintas kampus dan program studi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (USD) dan Universitas…

Sabtu, 31 Oktober—Malam puncak Pekan Sastra 2026 Universitas Sanata Dharma menjadi ruang pertemuan ekspresi seni dan kolaborasi mahasiswa lintas kampus. Acara ini diselenggarakan di Ground Gedung Fakultas Sastra, menghadirkan beragam pertunjukan, mulai dari pembacaan puisi, musikalisasi puisi, hingga penampilan band yang melibatkan mahasiswa lintas kampus dan program studi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (USD) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Setelah sebelumnya diisi dengan sesi bincang penulis, rangkaian Pekan Sastra berlanjut ke sesi penampilan yang sekaligus menjadi penutup dari seluruh kegiatan yang telah berlangsung selama satu bulan. Sesi ini menghadirkan berbagai pertunjukan yang menambah kemeriahan sekaligus menjadi perayaan atas berakhirnya rangkaian Pekan Sastra.

Penampilan pertama dibuka oleh Unit Kegiatan Program Studi (UKPS) Bengkel Sastra (Bengsas). Kali ini, Bengsas menyuguhkan puisi berjudul Yang Mengeluh dan Yang Merasa Suci karya Aryo dan Jecky.  Pembacaan puisi ini mengawali sesi kedua dengan begitu intens dan penuh pendalaman. Aryo berperan sebagai pejabat dan Jecky sebagai rakyat biasa. Keduanya merepresentasikan keluh kesah rakyat terhadap pemerintah yang dinilai kerap mengabaikan dampak kebijakan yang diambil terhadap kehidupan masyarakat. Penampilan kedua dibawakan oleh Zefanya dengan membacakan puisi karyanya sendiri yang berjudul Doa Hujan. Puisi penuh amarah tersebut mengangkat isu kebakaran hutan yang melanda berbagai wilayah di Indonesia, mampu menggerakkan hati penonton, dan menggetarkan panggung.

Setelah dibuka dengan pembacaan puisi, sesi penampilan berlanjut dengan penampilan musikalisasi puisi yang dibawakan oleh Laura, Fadel, dan Afrianus. Puisi pertama berjudul Negeriku Menangis karya April Hamaro yang dibacakan oleh Afrianus, dengan Fadel sebagai pemain cajon, dan petikan gitar serta senandung  lagu Berita kepada Kawan  oleh Laura.

“Makna puisi dan lagu Berita kepada Kawan yang menjelaskan bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja dengan segala persoalan kejahatan yang masih ada sampai saat ini dan tugas kita adalah memberitakan dan menyuarakan aspirasi tersebut dan aku, Afrianus dan Fadel menyuarakan-nya dengan musikalisasi puisi,” tambahnya.

“Waktu yang diperlukan kita pada saat mempersiapkan penampilan kurang lebih tiga minggu seminggu bisa tiga kali atau empat kali,”  jelas Fadel.

Masih dari Bengsas, musikalisasi puisi berikutnya dibawakan oleh Aurel dan Anggrek, diiringi petikan gitar dan senandung lagu Sempurna karya Andra and the Backbone oleh Aurel, serta pembacaan puisi Hingga Akhir Hanya Kau oleh Anggrek. Sebagai pemanis malam itu, puisi bertema romansa tersebut berhasil membawa penonton merasakan sensasi jatuh cinta yang manis dan berbunga-bunga. Melalui penampilannya, ketiganya menghadirkan pendalaman emosi yang kompleks, menggambarkan kemarahan sekaligus kesedihan atas kehancuran negeri tercinta akibat ulah oknum pemerintah yang tidak bertanggung jawab.

Penampilan puncak Pekan Sastra ini terasa spesial karena berkolaborasi dengan Sasmita dari UNY, salah satu unit kegiatan di bawah naungan Himpunan Mahasiswa. Mereka membawakan musikalisasi puisi berjudul Kwatrin tentang Sebuah Poci yang disambut tepuk tangan meriah dari penonton. Penampilan dilanjutkan dengan puisi kedua berjudul Sebuah Buku Harian—yang mengisahkan seseorang yang memilih mencintai dalam diam—dan ditutup dengan puisi Ninabobo. Penampilan Sasmita ditutup secara syahdu, selaras dengan suasana malam yang sejuk. 

Baca juga: Maman Suherman Mengurai Pergulatan Kreatif: Ketika Sastra Menjadi Suara Sejarah

Kemeriahan berlanjut ketika panggung diisi penampilan Suar, alumni Bengsas angkatan 2022, yang membawakan total tiga lagu dan dibuka oleh lagu berjudul Pilih Jalan oleh Nanda. Panggung semakin semarak dengan kehadiran El Music Organization (ELMO) dari prodi Sastra Inggris. Mereka membuka penampilan dengan membawakan lagu Ribuan Memori karya Lomba Sihir yang disambut antusias oleh penonton. ELMO meninggalkan kesan mendalam melalui lagu terakhir berjudul Terlalu Lama karya Vierra, yang berhasil menggemparkan penonton, meningkatkan euforia, serta membuat semua orang berdiri dan bernyanyi bersama.

Penampilan ELMO sekaligus menandai dibukanya Panggung Bebas—sebuah sesi terbuka bagi umum di mana audiens dipersilakan untuk menampilkan pembacaan puisi, bernyanyi, atau menari. Penampilan pertama di Panggung Bebas dipersembahkan oleh Athaya yang membawakan puisi Tanah Dibasahi Air Hujan dengan penuh penghayatan, di mana setiap patah kata mampu memukau penonton. Suasana malam semakin sendu ketika Andreas menyanyikan lagu Don’t Look Back in Anger karya Oasis, mengingatkan untuk tidak melihat masa lalu dengan penuh rasa marah, melainkan untuk melihatnya dengan penuh keikhlasan dan mengambil sisi positif dari kejadian yang telah terjadi di masa lalu

​Tepat pukul 21.00 WIB, salam penutup dari pembawa acara resmi mengakhiri Malam Puncak Pekan Sastra Universitas Sanata Dharma, meninggalkan jejak hangat, kenangan manis, serta ruang apresiasi yang berkesan bagi seluruh audiens yang hadir dan meninggalkan harapan untuk Pekan Sastra 2027 ke depannya. 

“Untuk Pekan Sastra ke depan semoga bisa lebih kreatif lagi, berkembang untuk menjadi lebih baik lagi,” ucap Jecky sebagai salah satu penampil malam ini.

Editor: Olivya

Thumbnail: Melia

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *