Setiap bulan Oktober, peringatan Bulan Bahasa hadir untuk mengingatkan kita pada pentingnya menjaga dan merawat bahasa Indonesia. Namun, di era digital saat ini, tantangan bahasa tidak lagi sekadar soal kesantunan tutur, melainkan bagaimana bahasa beradaptasi di tengah cengkeraman algoritma media sosial. Interaksi di ruang siber telah melahirkan fenomena kebahasaan baru: penggunaan kata plesetan atau eufemisme visual yang dirancang khusus agar konten aman dari pemblokiran otomatis (anti-banned).
Sensor Algoritma dan Lahirnya Dialek Visual
Di platform digital seperti TikTok, Instagram, dan X, kita semakin sering menjumpai bentuk penulisan unik seperti “bvdidiri”, “d1p3rk4os”, hingga “s3ksual”. Secara deskriptif (melihat apa yang sesungguhnya terjadi di masyarakat), fenomena ini menandai lahirnya dialek visual baru yang dikenal sebagai algospeak (bahasa algoritma).
Pengguna internet sengaja mengganti huruf dengan angka atau simbol agar konten mereka tidak diturunkan (takedown) atau disembunyikan (shadowban) oleh sistem sensor otomatis. Walaupun ejaannya diacak, makna pesan tersebut tetap tersampaikan dengan jelas kepada sesama penutur manusia. Fenomena ini membuktikan bahwa masyarakat senantiasa menemukan cara kreatif untuk menyuarakan opini dan mempertahankan ruang berekspresi.
Ancaman terhadap Sistem Ejaan Baku
Di sisi lain, jika ditinjau secara preskriptif (berdasarkan kaidah benar-salah), fenomena ini membawa dampak negatif bagi tatanan bahasa. Pengabaian ortografi secara masif dapat merusak kebiasaan menulis sesuai Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
Dampaknya tidak hanya merusak pembiasaan menulis pada penuturnya, tetapi juga mempersulit mesin pengarsipan bahasa digital. Sistem pemrosesan bahasa alami (Natural Language Processing) akan kesulitan mengindeks serta menganalisis data kebahasaan secara akurat karena banyaknya variasi kata yang tidak terstandarisasi.
Baca Juga: https://katakarsa.com/category/publisistik/literatur/
Bedah Kata Asli dan Sumber Ilmu
Dalam analisis kebahasaan, esai preskriptif yang baik hendaknya memberikan penjelasan berdasar, bukan sekadar menyalahkan. Rujukan yang digunakan pun harus sesuai dengan konteks persoalan dan tidak hanya bertumpu pada KBBI semata. Berikut adalah pembedahan kata-kata plesetan tersebut ke dalam bentuk aslinya beserta rujukan ilmunya:
- Plesetan “bvdidiri“ adalah bahasa gaul internet yang berarti bunuh diri. Kata ini awalnya disingkat menjadi bundir, lalu huruf “u” diganti menjadi “v”, dan diubah bunyinya agar terdengar mirip kata “bidadari”. Netizen sengaja menggunakan istilah ini untuk mengakali sensor otomatis di media sosial agar akun mereka tidak dihukum atau kontennya dihapus. Karena maknanya yang sensitif, kata ini termasuk bahasa tidak baku yang dinilai kurang sopan, sehingga hanya dipakai dalam obrolan santai atau candaan di internet.
- Plesetan “d1p3rk4os” merujuk pada kata asli diperkosa. KBBI menjelaskan kata dasar perkosa (memaksa dengan kekerasan) dan bentuk pasifnya diperkosa. Dalam sudut pandang linguistik forensik, ketepatan penulisan istilah hukum seperti ini sangat ditegaskan agar tidak menimbulkan kekaburan makna (ambiguity) dalam konteks legal dan publikasi.
- Plesetan “s3ksual” merujuk pada kata asli seksual. Berdasarkan KBBI dan Pedoman Penyerapan Kata, kata ini merupakan bentuk serapan baku dari bahasa Inggris (sexual). Di sisi lain, sudut pandang etika komunikasi digital menunjukkan bahwa algoritma kerap menyaring kata-kata edukatif atau medis secara keliru, sehingga memaksa pengguna memodifikasi ejaannya agar tetap dapat diunggah.
Persoalan bahasa di era modern membutuhkan rujukan yang tepat dan komprehensif. Fenomena kata anti-banned memperlihatkan benturan antara kepatuhan pada kaidah baku dengan kebutuhan praktis berkomunikasi di ruang digital.
Momentum Bulan Bahasa memperingatkan kita untuk tetap bijak dalam berbahasa: memahami alasan di balik lahirnya dialek visual ini di media sosial, sembari terus menjaga dan merawat Ejaan yang Disempurnakan (EYD) serta Tata Bahasa Baku dalam ruang formal demi keutuhan bahasa Indonesia.
Editor: Sahira
Thumbnail: Thumbnail by Pinterest












