“Kamu bisa lari kemana pun kamu mau, tapi, masalahmu tidak akan pergi.
Dia ada di sana, di belakangmu, sampai kamu berani berbalik arah dan hadapi”.
Bagi beberapa orang, menjadi kuat adalah hal yang diajarkan sedari kecil. Mereka dituntut untuk tidak menangis bahkan tidak bercerita ketika ada permasalahan yang menghantam hidupnya. Mungkin untuk beberapa saat luka tersebut terasa sudah “sembuh”, namun tanpa disadari, luka yang dipaksa untuk terpendam justru menjadi bom waktu, ia akan meledak ketika waktunya sudah tiba.
Hal tersebut sama seperti yang dikisahkan dalam film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (HKCTHI). Film NKCTHI merupakan alih wahana dari novel flash fiction karangan Marchella FP yang terbit pada Oktober 2018. Proses alih wahana tersebut berada dalam naungan Visinema Studio, dengan sutradara Angga Dwimas Sasongko, orang yang sama menyutradarai Filosofi Kopi dan Surat dari Praha. NKTCHI membawa konflik unik yang dekat dengan realitas kita, yakni tentang rahasia, komunikasi, dan rasa trauma sebuah keluarga.
Konflik yang dibawakan dalam film ini berbeda dengan kebanyakan film keluarga Indonesia yang membawa permasalahan ekonomi. NKTCHI justru membawa “komunikasi” sebagai akar dari masalah yang kompleks. Sang ayah, Narendra, dikisahkan secara sengaja memendam kenyataan adanya satu saudara kembar dari anak ketiganya, yang meninggal ketika proses persalinan. Rasa trauma kehilangan yang dimiliki Narendra pada akhirnya membawa dirinya menjadi pribadi yang lebih protektif. Alih-alih menciptakan suasana yang ‘aman’, Narendra justru menciptakan efek domino berupa tekanan bagi keluarganya, inilah yang kemudian menciptakan konflik kompleks dalam cerita.
Buku karangan Marchella sebetulnya tidak membawa cerita dan karakter yang utuh, di dalamnya Marchella menghadirkan refleksi, ilustrasi, dan pesan pendek mengenai proses berdamai dengan luka, kegagalan, dan ketakutan manusia. Marchella menulis buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yakni menjadi seorang ibu yang sedang menyampaikan nasihat kepada anaknya.
Hal tersebut yang kemudian menjadi tantangan dalam proses alih wahana NKTCHI, bagaimana sebuah refleksi singkat harus diubah menjadi narasi yang yang memiliki tokoh, konflik, dan pengembangan cerita yang kuat. Menariknya, NKTCHI berhasil menciptakan karya yang unik. Di dalam film, Angga tidak menampilkan siapa yang salah, dan siapa yang benar. Film ini justru memberikan perspektif bahwa semua manusia memiliki kesalahan dan berhak punya kesempatan kedua untuk memperbaikinya.
Narendra sebagai kepala keluarga tidak ditampilkan sebagai orang yang jahat, ia justru hadir sebagai representasi orang yang gagal mengelola rasa traumanya sendiri. Penonton diajak untuk memahami alasan di balik segala tindakannya, walaupun kita seringkali merasa tidak menyetujui keputusannya. Pendekatan semacam ini yang kemudian membuat film terasa lebih humanis, tidak menggurui, dan tidak hitam-putih.
Baca juga: “Aku Karo Sing Lainnya One The Way”: Ketika Tiga Bahasa Hidup Berdampingan di Mulut Mahasiswa Jogja
Membaca Realitas Sosial
Di balik cerita yang menguras emosi, NKTCHI juga menyajikan potret realitas banyak keluarga di Indonesia. Film ini menunjukkan bagaimana pengalaman traumatis yang tidak pernah diproses dapat memengaruhi bagaimana seseorang bertindak terhadap lingkungan terdekatnya, dalam konteks ini keluarga.
Hal tersebut menjadi relevan jika kita mengaitkan dengan konsep trauma lintas generasi (intergenerational trauma). Konsep ini menjelaskan bahwa trauma lintas generasi tidak semata-mata dipindahkan secara langsung dari orang tua ke anak. Sebaliknya, yang diwariskan adalah dampak trauma yang belum terselesaikan melalui cara hidup, misalnya pola asuh, pola komunikasi, serta nilai-nilai yang tumbuh dalam keluarga.
Melalui sudut pandang tersebut, Narendra memang tidak mewariskan pengalaman traumatis ke Angkasa, Aurora, dan Awan secara langsung. Namun tanpa disadari, ia justru mewariskan traumatis masa lalu secara tidak langsung melalui pola asuh, sikap protektif berlebih, dan tuntutan untuk menjadi sempurna.
Fenomena tersebut juga bisa dikaitkan dengan budaya patriarki yang masih mengakar di masyarakat Indonesia. Sebagai kepala keluarga, Narendra harus memenuhi ekspektasi bahwa laki-laki harus selalu tegar, rasional, dan menjadi pelindung bagi keluarga. Cara pandang ini juga diturunkan kepada anak pertamanya, Angkasa, yang sedari kecil juga selalu dituntut untuk bisa menjadi pelindung bagi adik-adiknya.
Dalam budaya patriarki, laki-laki selalu diposisikan sebagai seorang yang tidak boleh menangis, bercerita, dan harus menyelesaikan persoalannya seorang diri. Budaya inilah yang kemudian mempersempit ruang seorang lelaki untuk mengakui rasa kehilangan, takut, dan kesedihan.
Pilihan Narendra untuk memendam rasa trauma ini dapat dipandang sebagai upaya untuk memenuhi ekspektasi tersebut. Ia meyakini bahwa memendam rasa trauma kehilangan merupakan tanggung jawab supaya anaknya tidak merasakan apa yang ia rasakan. Dialognya kepada Ajeng, sang istri, menjadi penegas cara pandang tersebut:
“Nangis nggak akan ada gunanya, mereka gak perlu tahu tentang kesedihan ini, cukup di kita,
ini kesedihan terakhir di keluarga kita, ya?”

Berhenti dan Berbalik Arah
Konflik mencapai klimaks ketika semua rahasia terbongkar, Angkasa, anak pertama yang menyaksikan kebohongan ayahnya akhirnya bersuara dan menceritakan apa yang dipaksa ayahnya untuk dipendam. Semenjak malam itu, semua anak Narendra menjadi kecewa dan meninggalkan rumah satu per satu. Narendra yang sudah betul-betul rapuh tidak memiliki daya untuk bisa mengembalikan keluarganya.
Pada tahap ini, Ajeng, tokoh istri yang sepanjang cerita ditampilkan sebagai tokoh pasif karena trauma masa lalunya, menjadi tokoh penting dalam titik balik cerita. Pada akhir cerita, Ajeng ditampilkan menjadi tokoh ibu yang menyelamatkan keutuhan keluarganya. Ia menghampiri Aurora lebih dahulu, berbicara dengan Aurora, kemudian mengajaknya untuk menjemput kakak dan adiknya, Angkasa dan Awan.
Suasana film kembali menjadi hidup ketika Ajeng yang mulanya ragu untuk membawa mobil karena trauma masa lalunya, kini menjadi yakin dan percaya demi menjemput kedua anaknya. Adegan ini menjadi simbol keberanian untuk kembali berdamai dengan masa lalu sekaligus mengambil kembali kendali atas hidupnya. Jika sepanjang awal cerita Ajeng ditampilkan sebagai sosok yang diam karena rasa trauma, di akhir ia ditunjukkan sebagai seseorang yang ‘sembuh’ karena ia berani menghadapi luka yang selama ini ia hindari.
Pesan inilah yang sebetulnya ingin disampaikan melalui film NKCTHI, bahwa luka bukanlah sesuatu yang harus dihindari, ia harus dihadapi supaya bisa sembuh. Seringkali ketika kita diterpa dengan permasalahan, kita cenderung untuk menepi dengan harapan masalah itu akan selesai dengan sendirinya.
Nyatanya, proses penyembuhan tidak bekerja dengan cara seperti itu. Menepi dan hening mungkin mampu menunda rasa sakit, namun sewaktu-waktu ia akan muncul kembali layaknya bom waktu. Sebaliknya, jika kita punya keberanian untuk menghadapi permasalahan, layaknya badai, semua permasalahan pasti akan berlalu.
Kajian Ekranasi dan Estetika Visual-Audio
Dalam proses ekranisasinya film ini berhasil mengembangkan refleksi singkat menjadi sebuah kisah keluarga yang memiliki konflik dan trauma yang intens dari masing-masing tokohnya. Perubahan dan pengembangan ini merupakan konsekuensi yang wajar dalam proses ekranisasi. Menurut Eneste (1991), ekranisasi umumnya melibatkan penciutan, penambahan, dan perubahan variasi agar karya dapat menyesuaikan karakteristik medium film tanpa kehilangan gagasan utama dari karya asal.
Ketiga proses tersebut tampak jelas dalam NKTCHI. Refleksi-refleksi singkat dalam buku dikembangkan menjadi konflik keluarga yang kompleks dengan karakter yang memiliki latar belakang psikologis yang kuat. Alih-alih mengurangi makna karya asli, perubahan tersebut justru memperluas ruang interpretasi sehingga pesan-pesan Marchella dapat dirasakan melalui pengalaman visual dan emosional para tokohnya.
Tidak hanya berhasil dalam pengembangan cerita, NKTCHI juga mampu membangun emosi penonton melalui unsur visual dan audionya. Dominasi warna-warna hangat dengan saturasi yang tidak terlalu tinggi membuat suasana keluarga terasa begitu intim, namun di saat yang sama menyimpan kesan muram yang perlahan terasa sepanjang film.
Pada momen konflik, warna-warna bergeser menjadi lebih dingin, menciptakan suasana yang lebih menegangkan. Penggunaan close-up pada beberapa adegan penting juga membuat penonton dapat menangkap perubahan emosi setiap tokohnya tanpa harus dijelaskan melalui dialog yang panjang.
Dari sisi audio, musik menjadi pelengkap yang memperkuat suasana emosional film. NKTCHI membawa soundtrack film yang terasa sangat tepat, lagu-lagu seperti Rehat karya Kunto Aji, Fine Today dan Bitter Love karya Ardhito Pramono mempertegas perjalanan batin masing-masing tokoh.
Lagu Rehat hadir sebagai pengingat bahwa setiap orang berhak berhenti sejenak untuk menerima dan mengolah luka yang dimilikinya. Pesan tersebut selaras dengan konflik keluarga Narendra yang selama bertahun-tahun memilih memendam trauma dibanding menghadapinya. Sementara itu, Bitter love merepresentasikan kenyataan bahwa kasih sayang tidak selalu hadir dalam bentuk yang indah, terkadang cinta juga melahirkan luka.
Di sisi lain, Fine Today menggambarkan harapan bahwa seseorang dapat perlahan bangkit dari keterpurukan dan mulai menerima kenyataan hidupnya. Ketika lagu Fine Today menjadi penutup film, lirik dan nuansa lagu ini menghadirkan nuansa indah seakan mempertegas bahwa setiap orang memiliki kesempatan kedua untuk berdamai dengan masa lalunya dan kembali membangun harapan yang indah. Ketiga lagu tersebut akhirnya saling melengkapi perjalanan cerita NKTCHI, mulai dari memendam luka, menghadapi konflik, hingga berusaha berdamai dengan masa lalu.
Pada akhirnya, film NKTCHI merupakan film dengan makna pesan yang cukup dalam. Film ini bukan hanya menjadi sarana hiburan, melainkan juga mampu menjadi sarana refleksi mengenai keluarga, rasa trauma, dan cara menghadapi luka. Melalui film ini, kita juga diajak untuk berani menghadapi permasalahan. Karena pada dasarnya permasalahan kita tidak akan hilang, sampai kita mau berhenti berbalik arah dan berani menghadapinya.
Editor: Sahira Diniy Khairun Nisa
Thumbnail: IMDB dan Pinterest (@Hwang Gya)















