Nama yang Pernah Ada Kian Berlumut

Suara kertas buku tua mengisi atmosfer kala itu. Kira-kira pukul 12.00, bel berbunyi dan membuat suara derap langkah bak tentara yang berlarian. Aku menutup buku dan memasukkan kembali laptop yang menjadi tontonanku kala itu. Huft, bukan FOMO, aku ikut dalam derap langkah itu yang menuju ke ruang pertempuran, kata teman-temanku.  Ah, panjang umur. Aku tersenyum…

Suara kertas buku tua mengisi atmosfer kala itu. Kira-kira pukul 12.00, bel berbunyi dan membuat suara derap langkah bak tentara yang berlarian. Aku menutup buku dan memasukkan kembali laptop yang menjadi tontonanku kala itu. Huft, bukan FOMO, aku ikut dalam derap langkah itu yang menuju ke ruang pertempuran, kata teman-temanku. 

Ah, panjang umur. Aku tersenyum dan mengangkat tangan untuk memberi sapaan pada mereka, Lena dan Soto. Si Lena, anaknya memang mudah terlena. Sedangkan Soto, namanya memang buat lapar sekali. Mungkin ketika dia lahir, ayahnya sedang lapar berharap bisa makan soto di pagi yang cerah ketika beliau menunggu ibunya yang sedang melahirkan Soto. Yang penting bukan sontoloyo. 

Aku kemudian duduk di samping mereka sebelum akhirnya komandan perang datang, Ibu Teti, guru matematika. Aku benci matematika! Walaupun semua orang bilang jalannya selalu pasti, tetapi selalu saja aku salah. Kelas dimulai dan aku mengeluarkan buku. Ada yang jauh lebih indah dari matematika. Tanganku mulai berlarian di kertas itu seiring mencairnya kebuntuan estetik di kepala.

Kiki menyikutku. Aku angkat kepala. Ibu Teti menatap dengan tatapan yang sudah sangat aku hafal, tatapan campuran, antara sabar dan menyerah. “Nomor tiga,” bisik Kiki tanpa menggerakkan bibirnya, persis seperti ventriloquist yang belum selesai latihan. Aku berdiri. Nomor tiga. Nomor tiga itu apa? Aku melirik ke papan tulis. Persamaan kuadrat. Tentu saja. Alam semesta memang tidak pernah bisa membiarkanku damai.

“Saya belum selesai mengerjakan, Bu,” kataku, jujur. Terlalu jujur, mungkin. Soto menutup wajah dengan bukunya yang mungkin menahan tawa, mungkin menahan kasihan, mungkin keduanya. Ibu Teti menarik napas panjang, napas yang sudah sering sekali ditariknya sejak pertama kali mengajar di kelas kami. Aku membayangkan beliau menyimpan koleksi napas panjang itu di dalam stoples di rumah.

Kiki menyikutku lagi, kali ini lebih keras. “Makanya jangan gambar melulu,” bisiknya. Aku tidak menjawab. Di bukuku, ada sketsa wajah yang separuh jadi. Entah wajah siapa, aku hanya mengikuti tarian tangan yang berjalan sendirinya di atas kertas ini. Mungkin bukan siapa-siapa. Mungkin justru seseorang yang terlalu banyak aku pikirkan belakangan ini sampai ia muncul sendiri di ujung pensilku.

Baca juga: Kamar Mandi Setelah Senja, Saksi Bisu yang Mendebarkan Seorang Mahasiswa

Namanya Reno. Itu bukan nama penting, maksudku, bukan nama yang akan kau temukan di buku sejarah atau di prasasti mana pun. Tapi entah mengapa ia menempel di suatu sudut kepalaku seperti permen karet di bawah bangku. Menjengkelkan, tidak berguna, dan susah sekali pergi. 

Dia duduk tiga bangku dari depanku, di kelas sebelah, dan satu-satunya pertemuan kami yang bisa disebut percakapan adalah ketika kami berdua mengejar bus yang sama dan sama-sama tidak berhasil. Kami berdiri di halte itu, terengah-engah, dan dia berkata, “Busnya jahat ya.” Aku tertawa. Dia ikut tertawa. Selesai.

Tapi dari kejadian setipis kulit bawang itu, otakku sudah membangun semacam mahligai. Katedral dari sesuatu yang bahkan belum pernah terjadi. Aku menggambar tanpa sadar. Kubuat lekukan hidung yang aku pikir mirip, tatapan yang aku tidak yakin juga mirip, dan tangan yang jelas-jelas tidak mirip karena aku tidak pernah benar-benar memperhatikan tangannya. 

Kiki benar. Aku menggambar melulu. Tapi menggambar adalah caraku berbicara ketika tidak ada yang perlu diucapkan, ketika sesuatu terlalu besar untuk jadi kata-kata atau terlalu kecil untuk layak jadi cerita.

Pukul satu lebih sedikit, jam pelajaran berakhir. Ibu Teti pergi dengan membawa serta semua napas panjangnya. Soto langsung merebahkan kepala di meja. “Aku lapar,” katanya pada meja. “ Wajar,” jawab Kiki, “nama lo aja Soto.” Soto tidak bereaksi. Mungkin sudah terlalu lapar untuk tersinggung.

Aku menutup bukuku. Wajah separuh jadi itu aku tinggalkan di sana, di antara rumus-rumus yang tidak aku mengerti dan catatan yang aku tulis hanya untuk pura-pura memperhatikan. Besok mungkin aku lanjutkan. Atau mungkin tidak. Mungkin esok pagi aku buka bukunya dan wajah itu terasa asing, seperti mimpi yang lupa kubawa pulang.

Itu yang paling menyedihkan dari semua ini, bukan perasaannya, melainkan betapa cepatnya ia bisa jadi abu. Nama yang kau tulis di halaman buku dengan tinta biru pada suatu siang yang panas bisa kian berlumut sebelum kau sempat memutuskan apakah itu berarti sesuatu atau tidak. Dan kau tidak pernah tahu mana yang lebih menyakitkan; bahwa ia pergi, atau bahwa kau yang membiarkannya.

Tapi hari ini belum selesai. Dan bus terakhir masih sejam lagi.

Aku masih punya waktu untuk duduk di kantin, memesan teh manis yang terlalu pekat, dan melihat ke arah kelas sebelah. Bukan karena aku mengharap, melainkan karena kadang mata bergerak sendiri ke arah yang sudah terlanjur hafal.

Dan kalau ternyata dia juga ada di sana, itu bukan takdir. Itu hanya kebetulan yang aku biarkan terasa seperti sesuatu yang lebih besar dari yang sebenarnya. Yah, begini saja aku sudah senang. Seperti biasanya. Seperti selalu.

Editor: Sahira Diniy Khairun Nisa

Thumbnail by Pinterest (@SavemeRealme)

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *