,

K-Movie Once We Were Us: Benarkah Cinta dan Cita Tak Bisa Berjalan Beriringan?

Bagi pencinta film romantis yang terbiasa dengan akhir bahagia (happy ending), menonton film Once We Were Us mungkin akan terasa menyesakkan. Film yang disutradarai Kim Do Young ini memberikan pesan mendalam lewat naskah kuat yang ditulis oleh Yeum Moon Keung dan Kim Ha Na.  Film ini berhasil mengajak penonton hanyut dalam cerita hubungan yang kompleks…

Bagi pencinta film romantis yang terbiasa dengan akhir bahagia (happy ending), menonton film Once We Were Us mungkin akan terasa menyesakkan. Film yang disutradarai Kim Do Young ini memberikan pesan mendalam lewat naskah kuat yang ditulis oleh Yeum Moon Keung dan Kim Ha Na. 

Film ini berhasil mengajak penonton hanyut dalam cerita hubungan yang kompleks berkat akting memukau dari dua pemeran utamanya, yaitu Moon Ga Young yang berperan sebagai Han Jeong Won dan Koo Kyo Hwan yang berperan sebagai Lee Eun Hoo. Sebelumnya, film ini diadaptasi dari film Cina berjudul Us and Them yang tayang tahun 2018 lalu, dan menyusul versi Koreanya yang tayang pada Desember 2025 lalu. 

Film ini semakin menarik karena penyampaian pesan dan makna dalam film ini tidak hanya disampaikan di dalam alur atau ceritanya saja, tetapi dari warna yang digunakan dalam film ini cukup menarik perhatian penulis. Di bagian awal filmnya, hanya ada dua warna, yaitu hitam dan putih. 

Hal ini bertujuan untuk memperlihatkan kepada penonton tentang realitas dingin mengenai kedewasaan, impian pribadi, dan ego yang perlahan-lahan mengikis hubungan, dan sehingga menjadikannya sebuah refleksi jujur mengenai seni untuk merelakan, terutama dalam masalah percintaan di kalangan anak muda.

Kisah yang Berwarna Hitam dan Putih

Cerita ini dimulai dari sebuah situasi yang tidak terduga, yaitu pertemuan kembali dua manusia yang telah bertahun-tahun berpisah tanpa adanya salam perpisahan. 

Lee Eun Ho dan Han Jeong Won secara tidak sengaja dipertemukan di dalam sebuah pesawat yang batal mengangkasa akibat cuaca buruk. Di tengah penantian itu, mereka terpaksa harus menunggu di dalam ruangan yang sama dan mengharuskan mereka untuk berbicara dan menanyakan mengenai kabar masing-masing. 

Di tengah obrolan mereka, terselip kisah dulu mereka dan penonton dibawa melintasi waktu, mundur ke tahun 2008 saat segalanya masih terasa sederhana dan penuh dengan warna.

Pertemuan pertama mereka terjadi begitu sederhana, yaitu berawal dari sebuah tumpangan menuju terminal terdekat yang kemudian mengikat keduanya menjadi sahabat tak terpisahkan hingga berada di perguruan tinggi yang sama. Perlahan, hubungan itu bergeser saat Eun Ho mulai jatuh cinta dan rela melakukan apa saja demi Jeong Won. 

Meski sempat diwarnai penolakan dan jarak karena Jeong Won merasa Eun Ho telah mengkhianati arti persahabatan mereka, kehangatan itu akhirnya luluh. Setelah menjadi pasangan, mereka memutuskan untuk tinggal bersama dan pada bagian pertama film ini berhasil membuat kita sebagai penonton untuk ikut tersenyum menyaksikan manisnya asmara di antara keduanya yang sedang mekar.

Benarkah Ambisi Merenggut Kisah Mereka?

Masalah dan realitas hidup datang bertubi-tubi menguji ketahanan cinta mereka, seolah ingin berbisik keras kepada penonton bahwa perasaan yang mendalam saja tidak akan pernah cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan, apalagi jika keduanya masih berada di tahap proses pencarian jati diri atau belum dewasa sepenuhnya.

Hubungan yang semula adem itu, tiba-tiba berubah menjadi sebuah siklus melelahkan berupa pertengkaran yang diikuti perdamaian sementara, lalu kembali bertengkar karena masalah yang sama, dan perlahan-lahan mengikis ruang aman di antara Eun Ho dan Jeong Won. Keheningan mulai mengambil alih ketika mereka memilih untuk menekan isi kepala masing-masing demi menghindari pertengkaran baru. 

Lalu, tanpa disangka, jarak tak kasat mata pun mulai membentang lebar di antara mereka berdua. Jeda yang semula diciptakan untuk meredam amarah, justru menjadi awal hancurnya hubungan yang selama ini mereka jalani.

Baca juga: Penyambutan di Rumah Nenek

Kerapuhan hubungan mereka kian diperparah oleh kenyataan pahit mengenai benturan antara cinta dan cita-cita pribadi. Di tengah tuntutan finansial yang memaksa keduanya mencari uang ekstra, ego dan mimpi mereka mulai berjalan ke arah yang berlawanan. 

Demi mempertahankan kebersamaan, mereka dipaksa untuk mengorbankan serta menekan mimpi masing-masing. Alih-alih melahirkan keharmonisan, pengorbanan yang tidak seimbang itu justru menumbuhkan rasa bersalah yang terpendam dan kebencian terselubung yang lambat laun menggerogoti sisa-sisa rasa sayang.

Eun Hoo dan Jeong Won terjebak dalam dilema klasik yang sangat relevan bagi banyak pasangan muda, yaitu apakah memilih masa depan dan ambisi personal adalah bentuk keegoisan yang nyata? Ataukah bertahan dalam pelukan seseorang dengan mengorbankan potensi diri merupakan sebuah kebodohan? 

Penonton ikut diajak merasakan rasa sakit yang luar biasa melihat bagaimana dua manusia yang sebenarnya masih saling mencintai, justru berubah menjadi pihak yang paling mahir dalam saling melukai. 

Bertemu Kembali, Bukan Berarti Harus Bersama Kembali

Malam itu, melalui pertemuan singkat mereka setelah 10 tahun berpisah, Eun Ho dan Jeong Won akhirnya mendapatkan apa yang dulu tidak pernah mereka miliki, yaitu kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal dengan layak. Tidak ada upaya untuk mengulang kisah lama atau memaksa waktu berputar kembali. Sebaliknya, mereka memilih untuk jujur pada luka, penyesalan, dan perasaan yang selama ini tertinggal tanpa jawaban.

Percakapan tersebut menjadi ucapan salam perpisahan sekaligus penutup yang membebaskan keduanya dari beban masa lalu. Mereka menyadari bahwa berakhirnya sebuah hubungan tidak selalu berarti kegagalan. Ada kalanya seseorang hadir bukan untuk menemani sepanjang hidup, melainkan untuk membentuk versi diri kita yang lebih dewasa sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan masing-masing.

Menariknya, setelah sejak awal pertemuan mereka di masa kini disajikan dalam nuansa hitam dan putih yang merepresentasikan dinginnya realitas, penyesalan, serta jarak emosional yang tersisa, setelah keduanya saling membuka hati dan melepaskan masa lalu, warna perlahan kembali hadir di layar. 

Perubahan visual tersebut seolah menjadi simbol bahwa mereka akhirnya mampu berdamai dengan kenangan yang pernah membelenggu dan siap melangkah untuk kembali melanjutkan kehidupan mereka masing-masing. 

Pada akhirnya, Once We Were Us bukan sekadar kisah tentang dua orang yang gagal mempertahankan cinta. Film ini adalah refleksi mengenai pertumbuhan, pilihan hidup, dan keberanian untuk merelakan. Sebab terkadang, bentuk cinta yang paling dewasa bukanlah bertahan sekuat tenaga, melainkan menerima bahwa seseorang pernah menjadi bagian penting dalam hidup kita, meski pada akhirnya tidak ditakdirkan untuk tetap tinggal.

Editor: Olivya Permata Agustina

Thumbnail: Pinterest (@siluetivy)

Tentang Penulis

Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *