Di sebuah gang kompleks yang tak terlalu besar tetapi dipenuhi pot bunga retak dan suara pedagang bakso setiap sore, hiduplah seekor anjing cokelat berbulu lebat bernama Gembul. Ia bukan anjing penjaga yang galak ataupun anjing ras mahal yang sering dipeluk anak-anak kompleks. Gembul hanyalah anjing biasa dengan telinga sedikit turun dan kebiasaan tidur di depan warung sembako milik Bu Sari.
Namun, semua orang tahu satu hal tentang Gembul,–ia tak pernah sendirian. Ke mana pun Gembul pergi, selalu ada seekor kucing kampung dengan badan berisi, berbulu belang hitam dan putih, yang berjalan di sampingnya. Namanya Cimeng.
Cimeng memiliki ekor yang sedikit bengkok karena pernah jatuh dari pagar saat masih kecil. Bulunya tidak rapi, bahkan kadang kusut oleh debu jalanan. Tetapi matanya bulat dan hangat, seperti menyimpan terlalu banyak ketulusan untuk dunia yang sering mengabaikannya.
Setiap pagi yang hangat, Gembul dan Cimeng duduk di depan warung Bu Sari sambil memperhatikan ayam-ayam lewat. Sedangkan saat matahari telah pulang ke rumahnya untuk tidur, mereka senang mengejar kupu-kupu di halaman kosong dekat musala. Hingga saat matahari telah digantikan oleh bulan, mereka berbagi cerita di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip seperti kunang-kunang tua yang kelelahan.
“Aku tadi dimarahi tukang sate,” kata Cimeng suatu malam sambil menjilat kaki depannya.
“Kenapa?” tanya Gembul.
“Aku cuma lihat ikan bakarnya sebentar loh…”
Gembul tertawa sampai tubuhnya berguncang. Tawa itu selalu membuat Cimeng ikut tertawa meski sebenarnya ia sedih. Mereka tumbuh bersama seperti dua makhluk kecil yang saling menemukan rumah di tengah dunia yang tidak terlalu peduli pada mereka.
Hingga suatu sore, sebuah mobil putih mengilap berhenti di depan rumah besar ujung gang.
Dari dalam mobil turun seorang perempuan muda yang menggendong seekor kucing berbulu putih panjang dengan pita biru di lehernya. Kaki perempuan itu melangkah anggun. Sementara di gendongan, bulu kucing itu tampak bersih seperti awan yang baru dicuci hujan, dan matanya berwarna hijau bening seperti kelereng mahal di etalase toko mainan.
Saat hendak menutup pintu mobil, kucing cantik itu terlepas dari genggaman. Sang pemilik terdengar menyebut nama si cantik berkali-kali, menyayangkan tubuhnya yang jatuh atau barangkali bulunya terkena tanah usang. Namanya Moci.
“Oh, damn! Dia cantik sekali…” bisik Cimeng pelan saat pertama kali melihatnya.
“Iya, Meng,” Gembul mengangguk tanpa berkedip.
Sejak hari itu, Moci si kucing cantik sering berjalan-jalan sore di kompleks. Banyak hewan memperhatikannya. Bahkan burung-burung gereja seolah berhenti berkicau saat ia lewat.
Awalnya Cimeng tidak merasa terganggu. Ia tetap bermain bersama Gembul seperti biasa.
Tetapi perlahan, sesuatu berubah.
Gembul mulai sering pergi ke rumah besar tempat Moci tinggal. Mereka duduk di taman sambil mengobrol lama, bahkan kadang-kadang sampai malam turun dan lampu jalan mulai menyala satu-satu.
“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Cimeng suatu hari.
“Oh… banyak,” jawab Gembul cepat. “Moci tahu banyak hal. Ternyata dia pintar juga.”
“Seperti apa?”
“Dia tahu tentang bintang, tentang hujan, tentang kota-kota besar di luar sana. Bahkan sepertinya dia tahu tentang tulisan.”
Cimeng terdiam. Ia tidak tahu tentang hal-hal itu. Ia hanya tahu tempat sampah mana yang paling aman untuk mencari makan dan sudut mana yang hangat untuk tidur saat hujan datang.
Malam-malam berikutnya mulai terasa berbeda.
Baca juga: Mood Berantakan? Coba Lakukan 4 Hal Ini
Gembul tidak lagi menunggu Cimeng di depan warung, tidak lagi mengajak bermain ke halaman kosong dekat musala, tidak lagi tertawa mendengar cerita-cerita kecil Cimeng yang sederhana.
Kini Gembul lebih sering bersama Moci. Anehnya, setiap kali bersama Moci, suara Gembul terdengar berbeda. Lebih hidup. Lebih antusias.
Sementara saat bersama Cimeng, ia mulai sering diam.
Suatu malam, Cimeng duduk sendiri di bawah lampu jalan. Angin dingin meniup bulunya yang tipis. Ia melihat dari kejauhan Gembul dan Moci sedang berbicara di depan rumah besar. Mereka tampak tertawa bersama. Sangat dekat. Sangat akrab. Seperti yang dulu pernah Cimeng dan Gembul lakukan bersama.
Cimeng menunduk perlahan.
“Mungkin aku membosankan ya…” gumamnya pelan. Tidak ada yang menjawab selain suara jangkrik.
Hari-hari berlalu. Perasaan kecil di dalam dada Cimeng mulai berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan. Ia mulai memperhatikan bulunya yang kusam, ekor bengkoknya, dan cara jalannya yang tidak anggun.
Ia mulai bertanya-tanya kenapa dirinya tidak secantik Moci. Kenapa ia tidak tahu banyak hal menarik untuk dibicarakan, dan kenapa ia hanya seekor kucing kampung biasa.
Suatu sore, saat hujan turun tipis-tipis, Cimeng memberanikan diri mendekati Gembul.
“Mbul…” panggilnya pelan.
“Hm?”
“Kamu sekarang lebih suka sama Moci ya?”
Gembul terlihat gugup. “Enggak kok, enggak gitu…”
“Tapi kamu udah jarang sama aku.”
Hening.
Cimeng tersenyum kecil, meski matanya mulai basah. “Aku kurang seru ya buat diajak ngobrol?”
“Cimeng…”
“Aku juga nggak secantik Moci,” suaranya mengecil. “Aku cuma kucing kampung.”
Kalimat itu jatuh begitu saja seperti daun basah yang tak sempat diselamatkan angin. Untuk pertama kalinya Gembul melihat sesuatu yang selama ini tidak ia sadari. Mata Cimeng tidak lagi sehangat dulu. Di sana ada sedih yang terlalu lama dipendam sendiri.
“Aku nggak pernah mikir gitu,” kata Gembul pelan.
“Tapi aku mikir.”
Hujan turun semakin deras.
Cimeng menatap genangan air di bawah kakinya sendiri. Bayangannya tampak kecil dan berantakan.
“Aku sempat mikir. Mungkin kalau aku lebih cantik, lebih pintar ngobrol, atau lahir di rumah besar kayak Moci… kamu nggak bakal ninggalin aku.”
Gembul terdiam, dan diamnya terasa lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.
Malam itu Cimeng pergi tidur di bawah gerobak kosong dekat pasar. Sendirian. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, tidak ada Gembul di sampingnya.
Pada akhirnya, di bawah langit malam yang dingin, seekor kucing yang merasa terasing mulai percaya bahwa dirinya memang tidak cukup layak untuk dipilih dan dipertahankan.
Editor: Olivya Permata
Thumbnail by Pexels (@Sandra Vrekic)















