Sabtu, 21 Februari, Bengkel Sastra (Bengsas) mengadakan acara Mantra Malam-Malam Vol. 5: “Kepada Siapa Sastramu Bersuara?” yang diselenggarakan di Gedung Sastra, Kampus I Universitas Sanata Dharma, Mrican. Acara ini merupakan kegiatan tahunan Program Studi Sastra Indonesia yang terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.
Mantra Malam-Malam Vol. 5 menghadirkan bintang, Rabu Pagisyahbana. Ia merupakan seorang penyair, penggiat sastra dan budaya yang telah menerbitkan beberapa puisi antara lain; Perahu Napas: Seunting Puisi (2011-2014) diterbitkan oleh Penerbit Interlude pada 2015, Mencintai Kamar Mandi (2018), dan yang akan terbit sebentar lagi adalah Sepasang Buku Puisi: Rindu Luka kepada Sembuh dan Cinta yang Tak Putus.

Acara Mantra Malam-Malam berfokus dalam satu tema, sebagai “batu loncatan” di mana mereka akan membentuk sebuah program berskala besar.
“Makanya kita adakan Mantra Malam-Malam ini bertujuan untuk ada di program besarnya nanti itu,” tutur Opik.
Open gate dimulai pada pukul 17.00 WIB.
Acara dibuka oleh sambutan dari Opik, Ketua Bengkel Sastra.
“Kami berharap Bengkel Sastra ke depannya bisa membuat program kerja yang lebih baik,”ucap Opik.
Tidak hanya mengajak mahasiswa Sastra Indonesia dalam mengekspresikan diri mereka, tetapi juga mahasiswa dari program studi lain serta masyarakat di luar Universitas Sanata Dharma.
Ibu Peni sebagai Wakil Kepala Program Studi (Wakaprodi) juga memberikan sambutan, “Saya ucapkan terima kasih banyak kepada hadirin yang sudah datang, terkhususnya Mas Rabu Pagisyahbana selaku penulis dari “Mencintai Toko Buku”.”
Dilanjutkan oleh berbagai penampilan dari anggota Bengkel Sastra dan dosen. Mulai dari mini drama tentang kehangatan keluarga, pergolakan emosi “Lara, Luka, dan Suara”, pembacaan puisi, dan musikalisasi puisi “Membasuh” dan “Untuk Perempuan yang sedang Dalam Pelukan”.
Baca juga: Penuh Emosi dan Tawa, Pementasan “Jaga Daru” Sukses Digelar.
“Menurut saya hal yang paling berkesan dari penampilan malam ini, kalau boleh bilang semuanya, semuanya sangat berkesan. Karena saya percaya dan saya mengalami sendiri setiap proses kita berlatih sangat bermakna,” ujar Alysia.
Setelah kemeriahan panggung seni tersebut, acara puncak yang paling dinantikan. Sebuah talkshow eksklusif bersama penulis, Rabu Pagisyahbana. Dalam sesi ini, ia membagikan kisah di balik proses kreatifnya secara mendalam. Penulis mendeskripsikan setiap karyanya dari segi pengalaman pribadi serta latar belakang inspirasinya dalam menyusun puisi dan cerpen yang bertemakan kecintaan terhadap toko buku.
Beberapa sesi tanya jawab juga dilontarkan kepada penonton. Tidak hanya itu, hadiah kenang-kenangan juga diberikan oleh Bengkel Sastra kepada sang penulis.
Acara berakhir sekitar pukul 21.30 WIB. Malam itu, Mantra Malam-Malam Vol. 5 tidak sekadar berakhir sebagai sebuah perhelatan seni, tetapi juga sebagai sebuah refleksi bahwa sastra akan selalu menemukan suaranya, selama masih ada hati yang bersedia mengeja makna di balik setiap baris puisi.
Editor: Milka Raema















