Dari Kampus ke Pembaca, Valentino S. Menjadi Cahaya yang Menginspirasi Lewat Kemenangannya dalam Lomba Puisi Festival Kata Kompas 2025

Seorang mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2023 Universitas Sanata Dharma (USD), baru saja memenangkan lomba puisi Festival Kata Kompas 2025 dengan tema “Kata yang Menguatkan” yang diikutinya pada tanggal 13 Oktober 2025.

Seorang mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2023 Universitas Sanata Dharma (USD), baru saja memenangkan lomba puisi Festival Kata Kompas 2025 dengan tema “Kata yang Menguatkan” yang diikutinya pada tanggal 13 Oktober 2025. Kabar bahagia ini diterima melalui sebuah pesan Instagram dari Kompas yang mengabarkan bahwa salah satu puisinya masuk kategori tiga besar. Dia adalah Valentino Satriowibowo K. dengan nama pena Valentino S. yang gemar menulis dan mengikuti lomba dalam bidang puisi dari media sosial yang ia ikuti–salah satunya adalah Festival Kata Kompas 2025 ini.

Valentino S. atau yang akrab disapa Tino ini mengaku meskipun lolos sebagai finalis, ia tidak terlalu berharap sebagai pemenang dan bahkan sempat mengira dirinya hanya akan meraih juara ketiga. Namun, kemenangan memang ditakdirkan untuknya, Valentino berhasil meraih juara pertama dari ribuan puisi yang dikirim oleh 1.798 penulis puisi dari berbagai penjuru Nusantara. Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, Tino senang menulis puisi dengan mengaitkan teori dan sastra di mana teori sebagai metaforanya.

“Kata Tak Dapat Dibunuh” adalah satu dari tiga judul puisi yang dikirim Tino dan berhasil membawanya pada sebuah kemenangan. Makna dari puisi ini adalah representasi perasaan ketakutan untuk mati. Namun, dalam puisi ini ia meyakini bahwa setelah raganya mati pun dirinya tidak akan mati karena “kata” telah abadi. Dua judul lain yang juga ia kirim adalah “Anatomi Kalimat” dan “Kiamat Kata” yang semuanya ia selesaikan dalam kurun waktu lima hari–terhitung semenjak ia mendapatkan informasi lomba tersebut. 

Tino menilai kemenangan itu tidak membawa dampak yang terlalu besar. Begitu dinyatakan sebagai juara, perasaan senang sekaligus hampa justru menyerang hatinya. Hal ini terjadi karena setelah menang, ia merasa seolah tidak punya tujuan lagi dalam menulis. Ia mengatakan bahwa setelah tujuannya tercapai, yang dirasakannya justru kehampaan. Namun, perasaan seperti ini tidak mematikan semangatnya dalam menulis. Tino masih akan tetap menulis dan menyimpan karyanya yang kelak akan dibagikan pada momentum yang tepat.

Kegemaran dan ketekunan Tino dalam menulis puisi kerap ia bagikan di media sosial miliknya, hingga dari kegemaran ini ia telah menerbitkan dua buku antologi puisi. Lumen Lucis adalah judul buku pertamanya dan Bahasa untuk Menyebut Namamu adalah judul buku keduanya. 

Lumen Lucis ‘Secercah Cahaya’ adalah antologi puisi yang menggali lapisan terdalam dari perasaan manusia serta menghadirkan perjalanan emosi, dari luka hingga harapan, dari kekosongan hingga ketenangan. Sementara itu, Bahasa untuk Menyebut Namamu adalah antologi yang menghadirkan potret sederhana dari seorang perempuan yang terbagi menjadi dua tema besar, yaitu yang ditunjukkan secara universal dan yang lebih spesifik, yakni cinta kepada ibu.

Baca Juga: Mahasiswa dari Pakistan Kuliah Sastra Indonesia untuk Mewujudkan Cita-Cita Menjadi Penerjemah Buku

“Aku suka gaya puisi yang lugas, tapi cantik,” ujar Tino pada wawancara beberapa waktu yang lalu. Penilaiannya pada sebuah puisi terlihat dari proses Tino dalam menulis yang banyak terinspirasi dari Joko Pinurbo (Jokpin), sastrawan dengan gaya penulisan yang sederhana.

“Doa Malam” adalah salah satu puisi dari Jokpin yang menyentuh hati Tino. Menurutnya, meski hanya terdiri dari dua larik, puisi tersebut memiliki makna yang besar untuknya. Dari situlah lahir puisi-puisi Tino yang sederhana, tapi sarat akan makna.

Selain menulis, Tino juga aktif bergabung dalam beberapa komunitas di kampus maupun luar kampus. Bengkel Sastra adalah Unit Kegiatan Program Studi (UKPS) yang ia ikuti di kampus, tempatnya mengekspresikan diri pada bidang sastra. Selain itu, ia juga bergabung pada sebuah komunitas sastra di luar kampus, yaitu Sanggar Wiwitan (Sawit), dan telah pentas beberapa kali di tempat dan acara yang berbeda. Komunitas Sawit ini dapat ia ikuti setelah Tino mengikuti lokakarya dari Dinas Kebudayaan Yogyakarta.

Meski awalnya banyak pertentangan dan keraguan dari orang-orang sekitar, hal itu tidak membatasi niat Tino untuk melanjutkan mimpi. Sosok yang menginspirasi melalui tulisan-tulisannya ini mengatakan bahwa jangan takut untuk mencoba. Ia berpesan kepada siapa pun yang ingin mulai menulis untuk terus dan tetap menulis karena kita tidak pernah tahu kapan momentum itu datang. “Jangan takut! Kalau gagal, evaluasi diri dan coba lagi,” pungkasnya pada pertemuan siang itu.

Editor: Helena Setiasari

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *