Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta kini mulai menawarkan Tugas Akhir (TA) selain skripsi sebagai alternatif syarat kelulusan bagi mahasiswa. Kebijakan ini berlaku mulai dari angkatan 2021. TA dapat berupa publikasi atau proyek inovatif.
Program Studi Sastra Indonesia menjadi salah satu program studi yang menerapkan kebijakan ini. Dengan kebijakan ini, mahasiswa Sastra Indonesia dapat memilih untuk membuat proyek inovatif, seperti film, novel, puisi, atau karya sastra lainnya sebagai TA mereka. Proyek ini diharapkan dapat membantu mahasiswa mengembangkan kreativitas dan bakat mereka dalam membuat karya kreatif yang berkualitas. Selama melaksanakan TA, mahasiswa akan tetap diawasi oleh dosen pembimbing yang berpengalaman dalam bidang sastra.
“Untuk tugas akhir, aku milih buat proyek inovatif dalam bentuk film pendek. Senang dan sangat tertarik. Di satu sisi, aku emang terbantu dengan adanya pilihan selain skripsi. Di sisi lain, aku pengin orang tuaku bisa menikmati karyaku. Kalau aku ambil skripsi, mereka nggak bakalan tahu apa yang kukerjakan karena mereka tidak berlatar belakang pendidikan yg tinggi,” ucap Guntur, mahasiswa Sastra Indonesia 2021.
Peran dosen juga sangat signifikan dalam mendorong dan memotivasi mahasiswa untuk terus berkembang. Dosen ternyata tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai mentor yang memberi tantangan, mendorong keberlanjutan karya, dan membantu mahasiswa merancang langkah akademik ke depan secara lebih visioner.
“Saya teringat dengan kata-kata dari Pak Yapi setelah saya menyelesaikan antologi puisi pertama. “What next?” kata Pak Yapi waktu itu. Ucapan itu yang membuat saya untuk memilih TA meskipun skripsi saya juga sudah saya siapkan sejak semester 5,” ucap Syamsya, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2021.
Baca Juga : Kode Rahasia Anak 2000-an
Dengan adanya TA kreatif, mahasiswa yang memiliki kreativitas dan bakat dalam bidang tertentu terbantu untuk mencapai gelar S.S. Memilih TA kreatif bukanlah pilihan yang mudah, karena selain harus menghasilkan karya, mahasiswa juga dituntut untuk menyusun laporan proses pembuatannya.
“Sejak dulu saya memiliki minat bakat dalam bidang kreatif, jadi ketika angkatan saya diperbolehkan memilih TA sebagai syarat kelulusan, saya merasa kesempatan tersebut tercipta buat saya. Selain itu, memilih TA bukan berarti kita memilih pilihan yang lebih sederhana. Justru banyak yang harus kita lakukan ketika kita memilih mengerjakan TA. Selain kita harus menciptakan karya itu sendiri, kita juga harus membuat laporan proses kegiatan mengenai karya yang kita ciptakan. Kita belajar multitasking dari sana. Waktu yang kita butuhkan dalam mengerjakannya tentu juga lebih banyak. Kita bisa belajar memanajemen waktu. Jadi, tidak perlu khawatir kita akan melewatkan pengalaman menulis ilmiah. Meski tidak sama dengan skripsi yang mana kita harus melakukan penelitian. Semua tergantung keyakinan hati dan minat bakat karena bagaimana pun juga keduanya punya kesederhanaan dan kerumitannya masing-masing,” ucap Wara, mahasiswa Sastra Indonesia 2021.
Editor : Helena Setiasari
