Rintik hujan turun perlahan,
Menyentuh tanah dengan bisik yang lembut,
Seolah membawa kabar dari masa yang jauh.
Di balik kaca jendela yang berembun,
Kupandang dunia yang tampak sendu,
Dan kurasakan hati ikut merapuh bersamanya.
Di jalanan yang lengang,
Payung-payung berjalan seperti mimpi yang tersesat.
Setiap langkah manusia membawa rahasia,
Menyimpan luka yang tak pernah benar-benar kering.
Aku mencoba menafsir jejak mereka,
Namun semua kembali hilang di bawah derasnya hujan.
Dari balik awan gelap,
Kadang kilat memantulkan cahaya singkat,
Seakan mengingatkan bahwa terang tak pernah pergi sepenuhnya.
Aku menunggu sesuatu yang tak bernama,
Seperti harapan yang enggan mati,
Meski waktu terus berlalu tanpa kompromi.
Dan ketika hujan akhirnya reda,
Tersisa aroma tanah yang menenangkan,
Mengajakku percaya sekali lagi pada hari esok.
Langit yang cerah membuka ruang bagi doa,
Kecil namun jujur,
Agar langkah esok tak lagi terasa selelah hari ini.















