Rasayatra: Ketika Karya Mahasiswa Berbicara Lewat Ruang dan Rasa

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar pameran bertajuk “Rasayatra” di sebuah coffee shop hidden gem yaitu, Teko.su Yogyakarta, pada hari..

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar pameran bertajuk “Rasayatra” di sebuah coffee shop hidden gem yaitu, Teko.su Yogyakarta, pada hari Sabtu (9/5/2026). 

Pameran yang merupakan bagian dari tugas mata kuliah Manajemen Seni Rupa ini menampilkan beberapa karya dua dimensi dari beberapa seniman muda, dan menjadikan ruang kafe sebagai panggung ekspresi yang hangat serta terbuka bagi publik. 

Alunan musik pop milik musisi Sal Priadi terdengar menyambut pengunjung di kafe ini, menambah kesan hangat dan melankolis khas pameran seni. 

Pukul 16.00 WIB, Teko.su sudah terlihat ramai oleh pengunjung dan beberapa mahasiswa penyelenggara pameran. Tanpa menunggu lama, pembukaan pameran langsung diawali oleh sapaan MC dan dilanjutkan sambutan dari ketua panitia.

“Pameran Rasayatra berasal dari dua kata yaitu, ‘rasa’ yang berasal dari emosi atau esensi dan ‘yatra’ yang berarti perjalanan. Melalui tema ini, kami ingin menghadirkan sebuah ruang refleksi tentang perjalanan emosi manusia, khususnya generasi muda di tengah dinamika kehidupan modern dan budaya digital yang terus berkembang,” jelas Robbi selaku ketua panitia pada sambutannya sore ini.

“Akhir kata, semoga pameran Rasayatra dapat menjadi ruang apresiasi, refleksi, dan dialog yang bermakna bagi kita semua. Terima kasih atas perhatian dan kehadirannya, selamat menikmati pameran,” tutup Robbi dalam sambutannya.

Dibuka secara resmi pada pukul 16.20 WIB melalui prosesi pemotongan pita yang dilakukan oleh perwakilan barista Teko.su, “Rasayatra” hadir sebagai perjalanan rasa yang mengajak pengunjung menikmati seni di luar tembok kampus dan galeri formal.

“Saya mewakili Teko.su mengucapkan selamat kepada kawan-kawan yang melaksanakan pameran hari ini. Semoga dengan adanya pameran ini kita bisa berelasi lagi di hari-hari ke depannya,” sambutan hangat dari Wihel sebagai perwakilan dari Teko.su.

Dilihat dari karya-karya yang dipamerkan, acara yang mengangkat tema “Rasayatra” ini merupakan sebuah potret perjalanan ke dalam diri—tentang bagaimana kita sebagai manusia hidup merengkuh berbagai perasaan, memeluk kepingan masa lalu, dan tidak henti mencari arti bahagia yang wujudnya terus berubah seiring manusia bertumbuh.

Deretan nama seniman yang mengajukan karya-karya luar biasanya adalah Fiqi Izza Fauziya, Indah Meyta Syafhada, Roihanah Shafa Nisrina, Komala Nur Malika, Paulus Wisang Surya B. E. A., Salma Ramadhani Putri, serta menggandeng kurator untuk pameran ini yaitu, Hanesta Aldera Rizzy.

Melalui pendekatan visual yang memanfaatkan elemen geometri sebagai struktur serta warna sebagai representasi emosi, pameran ini mencoba menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga membangun ruang yang seolah menghidupkan perasaan bagi pengunjung.

Bentuk-bentuk geometri digunakan sebagai “wadah” bagi emosi yang tidak beraturan, sementara warna sebagai penunjuk lapisan rasa yang tampak di permukaan maupun yang tersembunyi sehingga pengunjung dapat merasakan dan menghubungkan pengalaman tersebut dengan ingatan serta pengalaman emosional mereka masing-masing.

Semakin sore, suasana pameran ini terlihat hangat dan ramai pengunjung. Ternyata, acara ini tidak hanya menawarkan pameran seni, tetapi juga ada sesi pembacaan tarot yang dilakukan oleh Kak Theresia. Sesi tarot ini seolah menambah kesan intimate antara panitia dan pengunjung. 

Sesi pembacaan tarot ini terbuka untuk umum dan dilakukan tanpa pungutan biaya. Para pengunjung tampak antusias ingin dibacakan tarot oleh Kak Theresia. Siapa pun yang ingin dilihat masa depan terkait karier, percintaan, pertemanan, hingga kehidupannya bisa dilakukan pada sesi ini secara terbuka. 

Cukup banyak pengunjung, bahkan panitia yang mengajukan diri untuk dibacakan tarot sehingga menambah kesan hangat dan seru pada pameran ini yang mewujudkan tujuan dari acara ini sendiri. 

Tujuan umum dari penyelenggaraan pameran seni rupa ini adalah untuk menghadirkan ruang apresiasi seni yang mampu merefleksikan lintasan pengalaman emosional generasi muda sebagai bagian dari proses menjadi diri. Namun, tujuan khusus dari pameran ini yang tidak kalah penting adalah menjadikan pameran ini sebagai ruang bagi para seniman yang terlibat untuk menyampaikan gagasan, perasaan, dan pengalaman batin melalui media visual sebagai bentuk ekspresi personal.

Baca juga: Satu Hari, Penuh Makna: Cerita di Balik Dies Natalis Fakultas Sastra

Keunikan pameran ini terletak pada cara karya diposisikan sebagai “penanda rasa”, di mana karya tidak hanya merepresentasikan pengalaman seniman, tetapi juga membuka ruang bagi pengunjung untuk mengaitkan karya tersebut dengan pengalaman mereka sendiri. 

Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat karya, tetapi juga diajak untuk mengikuti alur suasana yang berubah dari yang ringan, hingga lebih reflektif sesuai dengan perjalanan emosi yang diangkat. Dengan begitu, setiap orang bisa memiliki pemaknaan yang berbeda terhadap karya yang ditampilkan.

Selaku ketua panitia, Robbi menjelaskan alasan pemilihan nama “Rasayatra” untuk pameran ini adalah ia ingin mengangkat keluh kesah anak muda terutama, generasi Z. Menurutnya, di era modern seperti ini, permasalahan mereka seperti berasal dari generasi boomer, generasi milenial terutama, generasi Z yang banyak melewati fase kehidupan sehingga melalui pameran ini mereka ingin mengolah rasa dan pengalaman dari senimannya itu sendiri.

Robbi juga menjelaskan ada 13 karya yang dipamerkan dari enam seniman yang terlibat. Menariknya, seniman yang menyumbang karya pada pameran ini tidak hanya dari mahasiswa UNY sendiri, tetapi juga ada dari mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. 

Menurut Robbi, tantangan terberat dalam menyiapkan pameran ini terletak pada pengalaman mereka yang minim menggelar acara pameran. Apalagi persiapan pameran Rasayatra ini tidak lebih dari sebulan, bahkan tidak sampai tiga minggu. Meski dengan persiapan yang cukup singkat, tetapi pameran ini terlihat berhasil mendatangkan audiens yang cukup signifikan dan mereka sangat menikmati suasana hingga malam hari.

“Saya ingin menyampaikan bahwa kami membuat pameran ini tu sebagai sebuah wadah untuk mewakili rasa anak muda sekarang yang tengah digempur dunia saat ini. Saya harap juga pengunjung dan penikmat seni lainnya bisa menikmati seni yang terwakilkan oleh karya-karya di sini,” pesan Robbi dalam wawancara hari ini. 

Pameran yang digelar selama dua hari berturut-turut (9—10 Mei 2026), memberikan suasana yang tidak biasa bagi para penikmat seni. Perpaduan antara kopi dan karya dua dimensi seolah menyihir pengunjung untuk tetap berdiam di coffee shop ini. Sehingga pemilihan coffee shop sebagai ruang pamer juga menjadi bagian penting karena menghadirkan suasana yang lebih santai dan tidak kaku. Hal ini membuat pameran terasa lebih dekat dan memungkinkan interaksi yang tidak terbatas secara ruang antara karya dan pengunjung. 

Menemui salah satu barista Teko.su, Wihel, yang juga mahasiswa, menjelaskan bahwa acara pameran seperti ini bukan kali pertama dilakukan di Teko.su. Pameran Rasayatra ini adalah acara pameran kesekian yang dilakukan di sini. 

Wihel menjelaskan bahwa Teko.su sebenarnya dibangun dari kolektif seni dan owner-nya sangat support dan mendukung kawan-kawan yang bergerak dalam bidang seni. Alasan inilah yang membuat Teko.su bersedia menjadi tempat penyelenggaraan pameran. 

“Semoga ke depannya makin banyak yang mau ngadain acara apa pun di sini, semoga kita bisa berjejaring lebih luas lagi sehingga akhirnya bisa menjadi rumah untuk tumbuh dan pulang bersama-sama,” jelas Wihel pada sesi obrolan kali ini. 

Oleh karena itu, in this economy penyelenggaran pameran yang apik seperti ini diharapkan dapat menjadi ruang alternatif bagi generasi muda untuk mengekspresikan serta memahami pengalaman emosional mereka. 

Selain panitia dan seniman sebagai peran utama pada acara ini, pengunjung umum termasuk faktor penting untuk keberhasilan sebuah acara. Ditemui pada saat sedang santai, dua mahasiswa terlihat asyik mengobrol sambil menikmati suasana pameran.

Mereka adalah Vivi, mahasiswa UNY Jurusan Seni Rupa dan Eva, mahasiswa Univertas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) Jurusan Manajemen. Menurut Eva, pameran yang dilakukan di coffee shop seperti ini terasa berbeda dan terlihat unik, apalagi vibes cafe-nya yang terlihat berseni menambah nilai plus dan kecocokan untuk pameran di sini.

“Mungkin untuk pameran skala kecil ya, ini karena tugas dari mata kuliah Manajemen Seni menurut saya bagus banget kalau misalkan konsepnya di kafe gini, jadi mungkin ambience-nya dapet terus habis tu lebih santai…untuk mahasiswa juga lebih terjangkau kalau misalkan pameran diadakan di kafe gitu,” jelas Vivi pada kunjungannya di pameran ini. 

Pada akhirnya, “Rasayatra” dihadirkan sebagai sebuah ruang yang mengajak pengunjung untuk berhenti sejenak, merasakan, dan memahami bahwa setiap perjalanan emosional merupakan bagian dari proses menjadi pribadi yang terus bertumbuh dan tidak harus dijalani sendirian.

Editor: Olive

Thumbnail by Mey

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *