Satu Hari, Penuh Makna: Cerita di Balik Dies Natalis Fakultas Sastra

Perayaan Dies Natalis ke-33 Fakultas Universitas Sanata Dharma merupakan acara tahunan yang diselenggarakan pada Senin, 4 Mei 2026, bertempat di Ruang Seminar Driyarkara, Kampus II, Universitas Sanata Dharma.

Pada Senin, 4 Mei 2026 di Ruang Seminar Driyarkara, Kampus II, Universitas Sanata Dharma, menyelenggarakan Dies Natalis ke-33 Fakultas Sastra dengan mengusung tema “Meneguhkan Humaniora, Merawat Kebangsaan.” Open gate dimulai pada pukul 10.30 WIB, dan acara resmi dibuka dengan sambutan Dekan Fakultas Sastra, Dr. Tatang Iskarna. 

Dalam sambutannya, beliau  menyampaikan bahwa tema “Meneguhkan Humaniora, Merawat Kebangsaan” dipilih karena relevansinya dalam menghadapi tantangan kemajuan zaman. Beliau menegaskan bahwa humaniora bukanlah bidang yang pasif, melainkan berperan penting dalam membentuk kesadaran, imajinasi kebangsaan, serta sikap kritis. Menurutnya, humaniora tidak hanya berkaitan dengan masa lalu, tetapi juga memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan masa depan. Selain itu, beliau menambahkan bahwa sastra tidak semata berfokus pada bahasa, melainkan juga terhubung dengan berbagai bidang lain, seperti kebudayaan, industri kreatif, dan penerjemahan, yang turut mendukung upaya merawat kebangsaan.

Acara dilanjutkan dengan sambutan Rektor Universitas Sanata Dharma, Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa usia ke-33 merupakan fase yang matang sekaligus momentum penting untuk bangkit dan melangkah lebih jauh. Menurutnya, perayaan Dies Natalis ke-33 Fakultas Sastra ini menjadi bekal untuk terus bersikap kritis terhadap misi kebangsaan, sekaligus meneguhkan peran humaniora dalam merawat kebangsaan.

Pada bagian inti acara, para mahasiswa menyimak pidato ilmiah yang disampaikan oleh Dr. Heri Priyatmoko, M.A., dosen Program Studi Sejarah, yang mengangkat cuplikan kisah perjuangan pelajar humaniora dalam menghadapi rezim otoriter sastra timur pada periode 1926–1932. Paparan tersebut tidak hanya memperkaya wawasan historis, tetapi juga memberikan refleksi dan respons dari mahasiswa terkait peran mereka di tengah kehidupan kebangsaan.

“Nilai dari kegiatan dies natalis ini, dari pidato yang disampaikan bahwa ternyata kita yang sebagai mahasiswa, sebagai anak muda itu bisa juga menjadi panutan untuk kemerdekaan bangsa, menjadi pembela kebenaran, melalui gerakan-gerakan yang dekat dengan sastra dan itu bisa kita lakukan sekali lagi sebagai anak muda yang umurnya masih dibawah dua dekade,” ucap Andreas, penampil musikalisasi puisi yang merupakan anggota UKPS Bengkel Sastra.

“Menurutku, sastra harus punya gebrakan baru terutama di Fakultas Sastra Sanata Dharma ini, agar menjadi sebuah fakultas yang tidak melulu mementingkan akademis. Namun, juga karakter dan kemanusiaan,” tutur Hera, mahasiswi Sastra Indonesia yang turut hadir dalam acara siang ini. 

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan berbagai penampilan dari perwakilan mahasiswa Fakultas Sastra. Penampilan pertama dibuka oleh mahasiswi Program Studi Sejarah yang membawakan tarian tradisional yaitu, Tari Golek Ayun-Ayun. 

Baca Juga: Rindu yang Tersisa

Penampilan selanjutnya dibawakan oleh mahasiswa Sastra Indonesia yang bergabung dalam UKPS Bengkel Sastra berupa musikalisasi puisi, dibawakan oleh Prisly dan Andreas. Mereka menampilkan tiga puisi karya sastrawan besar. Puisi pertama yang dibawakan berjudul Apa Guna dari Wiji Thukul dengan aransemen musik oleh Fashko Poetry, puisi kedua berjudul Sajak Rajawali karya W.S Rendra, dan puisi ketiga yang dibawakan adalah karya Joko Pinurbo berjudul Mei dengan aransemen musik lagu Beginning To End oleh Hendyamps Studio

Sementara itu, penampilan yang tidak kalah menarik juga dibawakan oleh grup band Sastra Inggris yaitu, ELMO. ELMO turut memeriahkan acara dengan membawakan tiga buah lagu yaitu, My Everything (Glenn Fredly), Laskar Pelangi (Giring Ganesha), dan Ob-La-Di, Ob-La-Da (The Beatles). 

Secara keseluruhan, rangkaian Dies Natalis ke-33 Fakultas Sastra meninggalkan kesan dan harapan yang mendalam baik melalui pidato ilmiah,  pertunjukan seni, serta ruang apresiasi bagi gagasan dan pandangan yang baik bagi mahasiswa, tenaga pendidik, maupun dosen. Acara ini tidak hanya menjadi perayaan usia, tetapi juga momentum untuk memperkuat nilai-nilai humaniora dan kebangsaan di lingkungan Fakultas Sastra. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan menyanyikan Hymne Sanata Dharma, doa bersama, dan dilanjutkan dengan ramah tamah sebagai penanda berakhirnya seluruh acara Dies Natalis ke-33 Fakultas Sastra. 

“Harapanku ke depannya untuk Dies Natalis Fakultas Sastra berikutnya, semakin berkembang dalam menanamkan ilmu kemanusiaan, ilmu di mana kita bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga Fakultas Sastra juga bisa menjadi ladang untuk alumni-alumni, agar mampu bersuara untuk orang-orang yang tidak bisa bersuara,” pungkas Hera.

Editor: Yemima

Thumbnail by Melia

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *