Source: Youtube cinema21 (Official Trailer–Pangku)
Tidak semua pelukan menghadirkan kehangatan. Dalam beberapa keadaan, pelukan justru menjadi ruang paling sunyi bagi seseorang untuk bertahan hidup. Film Pangku (2025) yang disutradarai oleh Reza Rahardian, menyoroti kisah sosok Sartika, seorang perempuan yang harus menjalani kehamilan, melahirkan, sekaligus membesarkan anaknya seorang diri di tengah keterbatasan ekonomi. Setelah tiba di wilayah Pantura, tepatnya di Eretan Kulon, Sartika bertemu Bu Maya, seorang pemilik kedai kopi yang tampak ramah dan layaknya sosok ibu pengganti bagi Sartika. Namun, seiring waktu, kehidupan Sartika justru semakin terikat dengan kedai kopi pangku milik Bu Maya, tempat ia akhirnya bekerja sebagai pelayan demi menyambung hidup. Diproduksi oleh Gambar Gerak, film ini berdurasi 104 menit, dan dibintangi oleh Claresta Taufan sebagai Sartika, Fedi Nuril sebagai Hadi, dan Christine Hakim sebagai Bu Maya. Film mengangkat tema drama sosial “pangku” di jalur Pantura untuk bertahan hidup. Film ini juga mendapat pengakuan internasional dengan meraih empat penghargaan di Busan International Film Festival 2025, termasuk KB Vision Audience Award dan FIPRESCI Award.

Lebih dari sekadar alur cerita tentang seorang perempuan yang berjuang bertahan hidup. Kisah Sartika dalam film ini tidak hanya menggambarkan perjalanan hidup seorang perempuan, tetapi juga menjadi potret kehidupan masyarakat pinggiran yang sering kali luput dari perhatian. Melalui latar kehidupan di wilayah Pantura, film Pangku memperlihatkan fenomena keterbatasan ekonomi dapat mempersempit pilihan hidup seseorang. Sosok Sartika yang digambarkan dalam film tersebut harus menjalani peran sebagai ibu tunggal yang berada dalam situasi bertahan hidup menjadi prioritas utama. Kondisi tersebut secara tidak langsung mendorongnya masuk ke dalam persepsi masyarakat yang dianggap tabu. Pasalnya, praktik “kopi pangku” sendiri identik dengan kedekatan fisik antara pelayan perempuan dan pelanggan laki-laki yang meminta dilayani sambil memangku pelayan ketika menikmati kopi. Bagi sebagian masyarakat, praktik ini dianggap melanggar norma kesopanan dan sering kali diasosiasikan dengan ruang hiburan yang berada di wilayah abu-abu antara pelayan kafe dan eksploitasi tubuh perempuan. Hal ini yang membuat kedai kopi pangku kerap dipandang dengan stigma negatif oleh masyarakat, terutama ketika perempuan seperti sosok Sartika harus bekerja di dalamnya demi bertahan hidup. Di tengah stigma yang melekat pada pekerjaan “kopi pangku”, film ini justru ingin memperlihatkan sisi kemanusiaan dari tokoh Sartika. Ia tidak digambarkan sebagai sosok yang memilih jalan hidupnya dengan bebas, melainkan sebagai perempuan yang berada dalam situasi serba terbatas. Menjalani peran sebagai seorang ibu tunggal, Sartika harus memikirkan keberlangsungan hidup dirinya sekaligus masa depannya anaknya, Bayu. Dalam kondisi seperti itu, pilihan untuk bekerja di kedai kopi pangku menjadi bentuk kompromi terhadap realitas hidup yang keras. Film ini seolah menunjukkan bahwa di balik ruang yang dianggap tabu oleh masyarakat, terdapat individu yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya dengan cara yang tersedia baginya.
Baca juga: Film Pendek “Kembali Pulang” (2025): Ketika Komersial Menyentuh Makna Emosional Kemanusiaan
Menariknya, kata “pangku” dalam film ini berbanding terbalik dengan realita yang kita pikirkan. Kata “pangku” sering diasosiasikan dengan rasa aman, kehangatan, dan kedekatan seperti seorang ibu yang memangku anaknya. Namun, dalam film ini, kata “pangku” justru berbalik lagi. Pangku tidak lagi sekadar simbol kehangatan, melainkan ruang kerja yang lahir dari keterbatasan ekonomi. Kontras inilah yang membuat film Pangku menjadi momen refleksi bagi kita untuk merenungkan kembali makna pangku yang biasanya identik dengan kehangatan dan rasa aman. Dalam kehidupan sosok Sartika, pangku justru berubah menjadi bagian dari pekerjaanya untuk bertahan hidup. Perbedaan makna ini memperlihatkan bahwa sesuatu yang terlihat hangat dan sederhana bagi sebagian orang bisa memiliki arti yang sangat berbeda bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Secara keseluruhan, film Pangku tidak hanya menghadirkan cerita tentang kehidupan di kedai kopi pangku, tetapi juga memperlihatkan realitas sosial yang dialami oleh masyarakat pinggiran wilayah Pantura. Melalui tokoh Sartika, film ini menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi dapat membentuk pilihan seseorang khususnya untuk bertahan hidup. Salah satunya, sosok ibu tunggal yang harus bekerja di ruang yang kerap dipandang tabu oleh masyarakat. Pada akhirnya, Pangku mengajak penonton untuk melihat lebih dekat kehidupan para tokohnya, bahwa di balik stigma yang melekat, terdapat perjuangan manusia untuk bertahan hidup dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi anaknya.
Editor: Oliviya Permata Agustina
