Setiap pagi, aku membuka mata
seperti membuka pintu
yang lupa siapa pemiliknya.
Di balik pintu itu,
hari masih setia menunggu
lengkap dengan pertanyaan-pertanyaan kecil
yang tak pernah ku terima utuh.
Aku menjawabnya:
dengan berjalan,
dengan bekerja,
dan dengan diam
di sela waktu yang bergerak.
Tak ada jawaban benar atau salah,
hanya coretan-coretan
di kertas yang mudah terlipat.
Malam datang bukan sebagai penutup,
hanya memberi jeda.
Aku meletakkan teka-teki itu di samping bantal,
membiarkannya bernapas sendiri.
Sebab esok,
hatiku akan diminta bangun
dengan tenaga yang baru,
untuk kembali menebak:
apa arti hidup yang belum selesai.
