Halo, aku seorang mahasiswi dari salah satu kampus swasta terkenal di Jogja. Melalui tulisan ini, aku ingin mengungkapkan keluh kesahku terkait kurangnya penjagaan barang, terutama helm, di kawasan kampus. Menurut banyak orang, termasuk aku sendiri, kampus sering dianggap sebagai ruang aman, nyaman, dan kondusif bagi mahasiswa untuk belajar dan berkembang. Namun, kenyamanan itu rasanya mulai pudar ketika masalah kecil yang seharusnya bisa dicegah justru dibiarkan berulang tanpa solusi nyata. Walaupun kini parkiran di kampusku semakin baik, nyatanya kasus helm hilang masih saja terjadi.
Helm bagi mahasiswa bukan sekadar pelindung kepala saat berkendara. Helm juga bagian dari keamanan, kebutuhan harian, bahkan ada yang harganya tidak murah. Maka dari itu, kehilangan helm bukan hanya soal rugi materi, melainkan juga soal rasa kecewa, kesal, bahkan tidak aman di lingkungan yang seharusnya melindungi. Apalagi, pencurian ini terjadi di parkiran kampus yang dijaga oleh petugas keamanan dan dilengkapi dengan CCTV. Seharusnya, hal itu bisa diminimalisasi.
Baca juga: https://katakarsa.com/empat-rekomendasi-film-animasi-penuh-makna-untuk-anak-anak/
Sayangnya, keresahan mahasiswa semakin bertambah bukan hanya karena helm yang hilang, melainkan juga karena sulitnya akses untuk melihat rekaman CCTV. Mahasiswa yang menjadi korban pastinya ingin mencari kejelasan dengan meminta izin kepada pihak keamanan kampus untuk membuka rekaman CCTV. Namun, alih-alih mendapatkan solusi, proses ini justru dipersulit dengan berbagai alasan, seperti harus menunggu izin atasan, petugas yang tidak ada di tempat, rekaman yang “katanya” sedang bermasalah, hingga diarahkan untuk izin ke pihak lain yang pada akhirnya tidak memberikan kepastian apa pun.
Kondisi ini tentu membuat mahasiswa merasa kecewa. CCTV yang dipasang di berbagai sudut kampus seharusnya berfungsi sebagai sarana pengawasan dan keamanan. Jika rekamannya sulit diakses ketika terjadi kasus kehilangan helm, lalu untuk apa keberadaannya? Bukankah tujuan utama pemasangan CCTV adalah memberikan rasa aman dan menjadi bukti jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan?
Mahasiswa yang menjadi korban akhirnya memilih untuk diam dan mengikhlaskan helm yang hilang. Namun, rasa was-was itu tetap ada. Tidak sedikit pula yang akhirnya terpaksa membeli helm baru. Padahal, biaya untuk mengganti helm bisa memberatkan, terutama bagi mahasiswa yang harus mengatur pengeluaran sehari-hari. Beberapa mahasiswa akhirnya menandai helmnya dengan memasang stiker.
Baca juga: https://katakarsa.com/bertumbuh/
Lebih dari sekadar kehilangan barang, masalah ini menunjukkan kurangnya keseriusan pihak kampus dalam menanggapi keluhan mahasiswa. Jika mahasiswa merasa dipersulit ketika mencari kejelasan, maka kepercayaan terhadap sistem keamanan kampus otomatis menurun. Apalagi jika kasus seperti ini dibiarkan terus berulang tanpa adanya perbaikan nyata.
Di sisi lain, mahasiswa berharap akses terhadap CCTV seharusnya lebih terbuka, tentunya dengan prosedur yang wajar dan tetap menjaga keamanan data. Selain itu, pihak keamanan juga perlu lebih sigap dalam menjaga area parkir, bukan hanya sebatas formalitas. Dengan begitu, mahasiswa bisa merasa lebih tenang meninggalkan kendaraan saat mengikuti perkuliahan atau kegiatan kampus.
Sangat disayangkan, sebuah kampus yang megah dan menjadi tempat menimba ilmu justru menyisakan keresahan sederhana seperti pencurian helm. Semoga pihak kampus bisa lebih peka terhadap masalah ini. Tidak hanya dengan memperketat pengawasan, tetapi juga dengan mempermudah akses bagi mahasiswa yang benar-benar membutuhkan bukti dari rekaman CCTV.
Keamanan kampus bukan hanya tanggung jawab mahasiswa untuk berhati-hati, melainkan juga tanggung jawab pihak kampus untuk menciptakan lingkungan yang aman. Dengan langkah kecil, seperti menanggapi serius laporan pencurian helm, kepercayaan mahasiswa terhadap kampus bisa dipulihkan. Kami berharap, ke depannya kampus benar-benar menjadi tempat yang aman, nyaman, dan bebas dari keresahan-keresahan seperti ini.