Aku mati sejak hari dimana kau pergi, yang tersisa hanyalah tubuh
yang masih ingat cara bernafas.
Hangatmu memang tak lagi bisa kudekap, tapi darahmu masih mengalir lirih di setiap ruas nadiku.
2014, separuh jiwaku hilang.
2022, seluruhnya lenyap tanpa jejak.
Kupanggil namamu dalam diam,
di antara sunyi yang tak pernah menjawab.
Kini hanya kenangan yang menjelma gema, mengisi ruang-ruang luka.
Tak ada waktu yang mampu sembuhkan, hanya rindu yang terus tumbuh seperti akar di tanah perih diam, namun menancap abadi.
Baca Juga : Senja
Selain lewat doa yang lirih di malam hari, kerinduan ini kutitipkan pada tiap bait puisi yang kutulis dengan jiwaku yang retak sunyi.















