Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain rishi dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/katakars/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Hadiah Musim Gugur - KataKarsa

Hadiah Musim Gugur

Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalani sebuah hubungan dengan seorang gadis cantik bernama Faranisa itu. Aku mengenalnya tiga belas tahun yang lalu, tepat pada hari ulang tahunnya yang ke sepuluh. Saat itu, untuk pertama kalinya, aku datang ke rumahnya bersama Ferdi, salah seorang saudara jauh gadis itu. Sungguh berjasa sekali si Ferdi itu telah mempertemukanku dengan perempuan sesempurna Fara.

Susah senang sudah kulalui bersama Fara selama bertahun-tahun terakhir ini. Aku melihatnya tumbuh sebagai gadis cantik yang amat cerdas. Aku yang menyaksikan sendiri dari hari ke hari bagaimana ia memperoleh tubuh tinggi langsingnya itu. Aku juga menjadi saksi jatuh cinta dan patah hati pertamanya. Memang bukan denganku, tentu saja aku tak pantas untuk menjadi cinta pertamanya, dan aku juga tak pernah bercita-cita untuk menjadi penyebab patah hatinya. Selama aku bisa selalu ada bersamanya, aku tak keberatan walau hubungan kami hanya sebatas ini selamanya.

Keputusan Fara yang masih mengganggu benakku hingga saat ini adalah melanjutkan studinya di London, Inggris. Keputusan itu diambilnya pada hari ulang tahunnya yang ke dua puluh tiga. Padahal, belum setahun berlalu sejak Fara lulus dari Fakultas Hukum di bawah sebuah universitas ternama di Indonesia. Mendengar keputusannya yang mendadak itu, aku benar-benar tak bisa berpikir jernih, Aku sangat ingin ikut bersamanya, bukan bermaksud untuk bersikap posesif, aku hanya tak ingin membiarkannya merantau seorang diri ke negara yang sangat jauh dari Indonesia.

Setelah berdebat cukup lama dengan kedua orang tuanya selama berminggu-minggu tentang keputusan besarnya ini, berangkatlah Fara ke salah satu negara yang terletak di Benua Eropa itu. Hal yang paling kusyukuri adalah ia mengajakku untuk pergi bersamanya. Tentu saja aku tidak keberatan, bahkan terlampau senang. Bagiku, tak ada hal yang lebih penting di dunia ini selain menghabiskan waktu bersama Fara.

Kota London sedang mengalami musim gugur, musim favoritku, ketika aku dan Fara mendarat di London Heathrow, bandara Internasional yang terkenal sebagai bandara tersibuk di Eropa. Angin musim gugur menyambut kami dengan baik, setidaknya menemani kami untuk beradaptasi dalam beberapa hari pertama kami di negara ini.

Tak sampai satu bulan waktu yang dibutuhkan Fara untuk mengurus segala sesuatunya, maksudku hal-hal yang berhubungan dengan kelanjutan studinya. Kami juga sempat jalan-jalan bersama untuk mengunjungi tempat-tempat menarik di kota London sebelum Fara memulai jenjang pendidikan barunya.

Setelah kurang lebih tiga minggu kuliah di Inggris, sikap Fara mulai berubah. Ia menjadi lebih disiplin dalam menjalani kesehariannya. Ia juga lebih memperhatikan penampilannya dan sedikit lebih jarang mengajakku ikut bersamanya. Aku hanya curiga ia sedang dekat dengan seorang lelaki, yang jelas laki-laki yang bisa menjaganya, tidak sepertiku.

Fara menemui seorang laki-laki berkebangsaan Inggris, pemilik rambut pirang yang dibiarkan tumbuh menutupi leher belakangnya. Aku tak sengaja menguping ketika Fara meneleponnya tadi. Kalau aku tidak salah dengar, namanya Dereck.

Aku ikut bersama Fara sejak pagi tadi, merangkulnya erat agar tidak kedinginan setelah angin yang lumayan kencang menerpa kami seharian ini. Aku juga terpaksa ikut ketika ia tiba-tiba membuat janji makan malam bersama Dereck, lebih tepatnya makan malam yang terlalu awal jika dibandingkan dengan kebiasaan Fara selama di Indonesia.

Fara duduk berhadapan dengan Dereck di dalam sebuah kafe bernuansa monokrom. Aku juga ada bersama mereka. Hanya saja, perbincangan sore ini dikuasai oleh Dereck, orang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Dengar-dengar, Fara dan Dereck saling mengenal karena kebetulan mengambil dua mata kuliah yang sama dan ditempatkan di kelas yang sama pula. Sayang sekali, aku melewatkan itu semua karena Fara tak pernah mengajakku untuk ikut dengannya ke kelas.

Aku mulai kesal setiap kali Dereck memandang Fara dengan penuh arti di hadapanku. Aku yang sudah jatuh cinta pada Fara selama bertahun-tahun saja tak pernah berani menatapnya seintens itu.

Dereck juga sempat mengejekku dekil dan ketinggalan zaman. Ya tentu saja tidak ia ucapkan dengan nada kasar karena ia mengucapkannya di depan Fara. Tapi yang jelas, pria itu tampak sangat ingin menyingkirkanku dari hidup Fara.

Malam itu adalah malam paling menyedihkan sepanjang hidupku. Ucapan Fara yang mengatakan ingin segera mencari penggantiku, terus terngiang-ngiang di telingaku. Namun, aku tahu bahwa sejak awal semua ini memang salahku. Aku yang membiarkan diriku melewati batas, menaruh rasa pada sang pemilikku. Aku hanyalah sebuah syal wol berwarna merah yang menjadi hadiah ulang tahun Fara yang ke sepuluh dari salah seorang saudaranya. Seharusnya sejak awal aku sadar bahwa aku tak mungkin bisa bersama Fara selamanya. Aku tahu suatu hari nanti aku akan dibuang ke tong sampah atau bahkan mungkin dibakar bersama sampah lainnya.

Kurasa inilah waktunya. Hari ini mungkin akan menjadi hari terakhirku bersama Fara. Kupuas-puaskan diriku untuk memeluk leher Fara dengan lembut, melindunginya dari angin yang bertiup di Hyde Park, taman tempat Fara dan Dereck membuat janji untuk menghabiskan waktu bersama kedua kalinya.

Kudengar Fara berseru memanggil nama Dereck ketika pria itu menampakkan diri di area taman. Perasaanku semakin tak enak ketika melihat Dereck membawa sebuah tas kertas yang sepertinya berisi hadiah istimewa untuk Fara.

Dugaanku benar, sepenuhnya benar. Dereck langsung menyerahkan bingkisan itu pada Fara dengan senyum yang terlalu mempesona hingga membuatku kesal. Fara menerima bingkisan itu dan mengeluarkan sebuah syal wol baru berwarna biru gelap yang tampak elegan, tidak norak sepertiku.

Hadiah musim gugur dari Dereck sukses membuat Fara bahagia bukan main. Sudah lama aku tak melihat Fara tersenyum sebahagia itu, mungkin sejak patah hati pertamanya tujuh tahun yang lalu. Lagipula, tak lama lagi Fara akan menyambut musim dingin, musim favoritnya, dan ini akan menjadi musim dingin pertama seumur hidupnya. Aku harus tahu diri. Syal biru yang tampak lebih tebal dan hangat itu pasti akan lebih dibutuhkan olehnya. Mungkin sudah waktunya aku pensiun.

Dereck menarikku lepas dari leher Fara, lalu membantu gadis itu memasang syal barunya. Mungkin setelah ini Dereck akan mengantarku ke tempat peristirahatan terakhirku dan Fara akan dengan mudah melupakanku.

Dereck melemparku begitu saja ke bangku taman yang terdekat dengan tempatnya berdiri, tentu saja agar kedua tangannya bisa bebas membantu Fara memasang syal barunya dengan benar. Baiklah, mungkin ini saatnya aku memilih takdirku sendiri. Aku harus pergi.

Aku meluruskan tubuhku agar terasa lebih ringan. Angin musim gugur yang selama berbulan-bulan telah setia menerbangkan daun-daun berwarna kuning kemerahan itu, akhirnya turut menerbangkanku detik ini.

Fara telah mendapatkan hadiah musim gugur terindahnya, bukan hanya syal baru itu, tetapi juga sang pemberinya. Kini waktunya aku mendapatkan hadiahku sendiri. Mungkin terbang melintasi kota London adalah hadiah musim gugur yang terbaik untukku. Selamat tinggal, Fara. Terima kasih untuk tiga belas tahun terindah yang sudah kita lalui bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *