Aku mencoba mengadah bayangmu,
namun udara hanya penuh jarum,
yang menusuk dada kecilku.
Di ranjang putih kau menyulam sunyi,
dengan senyum pucat dan sedih yang sembunyi,
sementara di langit matahari retak,
membuang cahaya yang tak berjejak.
Aku ingin melipat napasmu,
agar tak jatuh ke dasar waktu.
Namun ruang terlalu sunyi,
dalam tubuhku yang terlampau dini.
