BERMALAM DI KAMPUS
Siapa sangka bermalam di kampus bisa membuatku menghadapi pengalaman yang menyeramkan?
rishi dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/katakars/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Siapa sangka bermalam di kampus bisa membuatku menghadapi pengalaman yang menyeramkan?
Ada sebuah pengalaman mencekam ketika aku remaja yang begitu membekas di memoriku. Saat itu, aku ingat betul bahwa tetanggaku baru saja melahirkan bayinya. Jadi, aku sempat berspekulasi bahwa semua yang terjadi malam itu berkaitan dengan tetanggaku. Namun, ternyata tidak.
Sampai saat ini, aku masih belum tau siapa yang membuka pintu kamar itu. Hari itu, aku hanya berdua dengan papa di rumah karena mama masih bekerja di kantor dan biasanya akan pulang setelah pukul 19.00 WIB. Rumah memang selalu tampak sepi sejak kakakku sudah tidak lagi tinggal di sini. Suasana rumah hanya diisi oleh aku dan papa. Ia biasanya bekerja di ruang kantor kecil yang terletak di lantai 1 rumahku.
Saat itu, aku dan temanku, Lian, sedang bermain tali merdeka. Kami bermain hingga tak
terasa hari sudah menjelang sore, mungkin sekitar jam 5. Mama Lian tiba-tiba memanggil
anaknya untuk pulang dan mandi, “Lian, cepat pulang!!”
Aku ingat sebuah pengalaman yang membuatku tidak nyaman dengan kegelapan sampai saat ini. Pengalaman ini sudah cukup lama, seingatku pengalaman itu terjadi saat aku masih di taman kanak-kanak. Kejadian ini berlangsung di rumahku yang lama, tepatnya di kamarku yang memiliki sebuah jendela di samping pintu. Di luar kamarku ada ruang makan yang bisa dilihat melalui jendela. Biasanya, jendela itu tertutup gorden. Namun malam itu, karena gorden jendelaku baru dicuci dan belum sempat dipasang lagi, jadilah jendela itu tampak tembus pandang memperlihatkan ruang makan di seberang sana.
Ini adalah ceritaku ketika duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Hari itu, aku dan temanku menunggu jemputan di sekolah. Sekitar pukul tiga sore, suasana sekolahku sudah mulai sepi. Bisa dibilang, aku suka dan kerap penasaran dengan hal-hal berbau horor. Apalagi di masa-masa itu, permainan seram seperti Charlie Charlie, Bloody Mary, dan Ouija sedang menjadi tren di kalangan anak-anak. Permainan yang terlintas di kepalaku saat itu adalah Bloody Mary. Aku sudah mendengar sedikit dan paham mengenai cara melakukan permainan itu.