Kisah ini kualami kurang lebih satu setengah tahun yang lalu saat libur semester peralihan dari semester dua ke semester tiga. Saat itu aku pergi berlibur ke Jawa Tengah bersama lima orang temanku. Kami pergi berboncengan menggunakan tiga sepeda motor dari Yogyakarta. Kami tidak menginap di sana, melainkan berangkat pagi pulang sore.
Pada saat perjalanan pulang, kami mampir di salah satu Gua Maria untuk beristirahat sejenak. Itu pertama kalinya aku berkunjung ke Gua Maria tersebut. Tempat itu sangat rindang, tetapi sepi pengunjung. Aku memakluminya karena itu adalah hari biasa, bukan akhir pekan.
Sesaat setelah tiba, keempat temanku langsung merebahkan diri di pendopo yang ada di sana. Sepertinya mereka sudah terlampau lelah untuk memikirkan apakah lantai pendopo itu cukup bersih atau tidak untuk ditempati.
Satu temanku yang tersisa tampak gelisah. Rupanya ia mendapatkan haid hari pertamanya di bulan itu. Aku langsung menawarkan diri untuk mengantarnya ke toilet. Sebelum ke toilet, kami mampir di satu-satunya kios yang buka untuk membeli pembalut.
Untuk pergi ke toilet, kami harus menuruni cukup banyak anak tangga. Bangunan toilet itu terletak di antara pepohonan dan rerumputan yang kurang terawat. Saat tiba di sana, aku membiarkan temanku masuk seorang diri. Awalnya ia agak ragu karena lampu toilet tersebut tidak bisa dinyalakan. Namun, karena situasinya memang mendesak, ia memberanikan diri untuk masuk. Aku meyakinkannya bahwa aku akan tetap berjaga di depan pintu.
Aku menepati janjiku untuk tetap berjaga di sana sampai ia keluar. Namun, ia tampak pucat saat keluar dari bilik toilet yang gelap itu. Saat kutanya pun ia menolak untuk bercerita. Ia mengajakku untuk bergegas kembali ke pendopo tempat teman-teman kami beristirahat.
Saat tiba di pendopo, ia sudah tidak terlalu pucat. Ia mengeluarkan snack dari dalam tasnya dan menawariku. Kami berbincang sejenak, tetapi ia tetap tidak mau menceritakan apa yang ia lihat atau ia alami di toilet tadi. Tak lama, ia memutuskan untuk ikut beristirahat seperti teman-teman yang lain.
Aku sama sekali tidak merasa lelah karena aku tidak bisa mengemudikan sepeda motor sehingga dibonceng oleh temanku sepanjang hari. Akhirnya aku mengeluarkan buku doa dan rosario dari dalam tasku. Aku berjalan ke depan patung Bunda Maria dan duduk di sana untuk berdoa.
Saat aku sedang berdoa, tiba-tiba aku mendengar suara isak perempuan tepat di belakangku. Ia merintih seolah kesakitan. Aku berasumsi bahwa perempuan itu sedang menghadapi masalah hidup yang amat berat. Mataku masih terpejam, tetapi aku bisa mendengar ia mengatakan, “Duh, Gusti.”
Baca Juga: Alunan Musik Gamelan Pukul Tiga Pagi
Aku memutuskan untuk mengakhiri doaku yang memang sudah hampir selesai. Di akhir doaku, aku sempat meminta pada Bunda Maria, “Bunda, sepertinya orang di belakang saya ini sedang memiliki masalah yang berat, tolong dengarkan doa-doanya. Saya pamit dulu.”
Aku membuka mataku setelah membuat tanda Salib sebagai penutup doaku. Segera setelahnya, aku bangkit berdiri dan berbalik badan. Aku langsung mematung ketika tidak mendapati seorang pun duduk di belakangku. Seketika seluruh tubuhku merinding dan jantungku berdetak sangat cepat. Namun, otak dan hatiku masih berusaha menyangkal bahwa suara tangis yang kudengar merupakan sesuatu yang gaib. Bagaimanapun, itu adalah tempat wisata rohani yang bagiku suci dan pasti jauh dari hal-hal negatif.
Aku mengedarkan pandanganku, masih berusaha menemukan wanita yang sedang menangis. Nihil, yang kutemukan hanya dua orang wanita yang tampaknya baru tiba di sana sambil tertawa-tawa gembira dan mengangkat handphone untuk selfie. Posisi mereka masih cukup jauh dari tempatku, mustahil salah satu dari mereka yang menangis di belakangku tadi.
Karena tidak menemukan alasan yang masuk akal atas apa yang baru saja kualami, akhirnya aku memutuskan kembali ke pendopo untuk membangunkan teman-temanku. Aku tidak langsung menceritakan hal itu pada mereka agar mereka tetap merasa aman sampai kami kembali ke kos dan rumah masing-masing.
Beberapa hari setelahnya, aku kembali bertemu dengan teman-temanku itu. Pada saat itulah aku baru menceritakan kejadian yang kualami saat berada di Gua Maria. Temanku yang masuk ke dalam bilik toilet juga menceritakan kejadiannya. Dalam toilet, ia melihat adanya sajian dan bunga pada penampungan air. Aku merasa itu bukan sesuatu yang cukup menyeramkan untuk bisa membuatnya menjadi sepucat itu. Sampai saat ini aku tidak tahu, apakah ia benar-benar ketakutan hanya karena melihat sajian atau memang ada bagian yang belum ia ceritakan.
Editor: Fransiska Meiliana Martani
