Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain rishi dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/katakars/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Menentukan Kata Baku: Mana yang Tepat, Hafal atau Hapal? - KataKarsa

Menentukan Kata Baku: Mana yang Tepat, Hafal atau Hapal?

Perbedaan Pengucapan dan Aturan Bahasa

Adanya perbedaan antara kata yang sering kita dengar dan ucapkan dengan kata yang tercatat dalam kamus merupakan fenomena kebahasaan yang umum. Perbedaan paling nyata terlihat pada penggunaan kata hafal dan hapal. Dalam percakapan sehari-hari, banyak dari kita lebih sering menggunakan hapal. Kecenderungan ini terjadi karena alasan kenyamanan saat berbicara. Secara alamiah, bunyi /p/ (bunyi yang dikeluarkan dengan mengatupkan kedua bibir) sering kali terasa lebih mudah dan cepat diucapkan dibandingkan bunyi /f/ (bunyi yang dikeluarkan dengan menggesekkan bibir bawah dan gigi atas). Kenyamanan bicara ini diperkuat oleh kebiasaan dari dialek-dialek lokal di berbagai daerah. Akan tetapi, ketika kita memasuki lingkungan formal, seperti menulis surat dinas, laporan, atau karya ilmiah, kita wajib mengikuti standar yang ditetapkan oleh lembaga bahasa resmi.

Konflik Kebiasaan dan Standardisasi

Masalah utama dalam kerancuan ini adalah pertentangan antara kebiasaan bicara sehari-hari dengan keharusan adanya satu standar bahasa yang berlaku untuk semua. Opini ini menegaskan bahwa kerancuan tersebut timbul dari konflik antara penggunaan lisan—di mana bunyi /f/ sering diganti menjadi /p/ demi kemudahan bicara—dengan perlunya standardisasi bahasa nasional. Meskipun kita mengakui bahwa kata hapal terasa lebih akrab dan dekat di lingkungan sosial, penutur yang peduli terhadap kualitas bahasa harus menempatkan aturan baku di atas kebiasaan. Jika kita mengizinkan variasi lisan yang masif mendikte bentuk tulisan, standardisasi bahasa yang telah diperjuangkan dapat terancam. Oleh karena itu, kita harus selalu merujuk pada pedoman resmi.

Keputusan Resmi Lembaga Bahasa

Untuk memastikan bahasa memiliki pegangan yang pasti, kita harus merujuk kepada sumber yang paling sah, yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Berdasarkan penetapan lembaga-lembaga ini, kata baku yang tepat dan diterima dalam komunikasi formal adalah hafal. Kata ini diserap dari bahasa Arab ḥafiẓa yang berarti ‘mengingat atau menjaga’ dan bunyi /f/ dipertahankan sebagai upaya resmi untuk mengakui dan melestarikan fonem serapan dalam sistem ejaan baku. Dengan adanya penetapan resmi ini, maka kata hapal secara jelas dicatat dalam kamus sebagai bentuk yang tidak baku atau tidak benar untuk digunakan dalam situasi resmi.

Pentingnya Disiplin untuk Mutu Komunikasi

Setiap penutur bahasa Indonesia memikul tanggung jawab untuk menjaga kualitas dan kemurnian bahasa. Penggunaan kata yang tidak baku, seperti hapal, di lingkungan formal, seperti dunia akademik atau profesional, dapat mengurangi kepercayaan terhadap teks tersebut dan mengganggu keseragaman pemahaman secara nasional. Standardisasi melalui penentuan bahwa hafal adalah bentuk baku memiliki tujuan krusial. Pertama, untuk memastikan kejelasan komunikasi sehingga makna tidak bergeser di antara pembaca dari berbagai daerah. Kedua, untuk menjaga martabat bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan yang harus stabil dan konsisten. Kedisiplinan ini adalah investasi jangka panjang bagi kualitas literasi bangsa.

Baca juga : Debat Bahasa: Absen vs Presensi dalam Konteks Kehadiran

Pemilihan Konteks dan Sikap Akhir

Kita harus mampu membedakan konteks penggunaan bahasa. Dalam suasana santai bersama teman atau keluarga, penggunaan hapal mungkin saja diperbolehkan karena nuansanya yang lebih akrab. Namun, ketika berhadapan dengan tulisan resmi, dokumen penting, atau komunikasi formal, kedisiplinan untuk menggunakan hafal adalah keharusan. Bentuk yang benar secara definitif adalah hafal. Marilah kita jadikan kepatuhan pada aturan baku ini sebagai bukti nyata bahwa kita memiliki kesadaran berbahasa yang tinggi dan menghargai upaya standardisasi bahasa yang telah dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *