Bagi mahasiswa Sastra Indonesia, ruang redaksi bukan sekadar tempat kerja bagi wartawan atau editor, melainkan tempat kata dilahirkan. Selama ini, ruang redaksi itu hanya hadir dalam imajinasi kami ketika membaca berita melalui layar telepon genggam. Imajinasi tersebut akhirnya hadir nyata pada Senin, 15 Desember 2025 pukul 09.00 WIB, ketika mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma menginjakkan kaki di kantor redaksi Kompas.com sebagai pembuka rangkaian kegiatan study tour ke Jakarta dan Bandung.
Kesan Pertama di Menara Kompas
Kantor redaksi Kompas.com berlokasi di Menara Kompas Lantai 3, Jalan Palmerah Selatan 21, Jakarta Pusat. Saat menginjakkan kaki di area Menara Kompas, kami berfoto di depan Bentara Budaya Jakarta, mengabadikan latar gedung kaca setinggi 29 lantai yang menjulang di belakang kami. Pemandangan ini terasa kontras dengan apa yang biasa kami lihat di Yogyakarta. Semuanya terlihat sibuk dan terlihat sangat formal. Dari luar memang terlihat sangat metropolitan, tetapi di dalamnya tersimpan jantung jurnalistik yang terus bekerja.
Struktur Organisasi Kompas.com
Setelah itu, kami diarahkan masuk ke salah satu ruang dekat Bentara Budaya. Di ruangan inilah kami disambut oleh tim Public Relation, serta David Oliver Purba, Asisten Wakil Pemimpin Redaksi sekaligus Kepala Editor Desk Megapolitan Kompas.com. Dengan gaya penyampaian yang santai namun padat, Mas David membuka pertemuan dengan memperkenalkan struktur redaksi Kompas.com, sistem kerja jurnalistik profesional yang biasanya hanya kami lihat lewat layar telepon genggam.
Ia menjelaskan bahwa Kompas.com memiliki dua basis utama, yakni di Jakarta dan Solo. Di puncak struktur redaksi terdapat Pemimpin Redaksi, Amir Sodikin, yang dibantu oleh dua Wakil Pemimpin Redaksi: Ana Shofiana Syatiri yang menangani teks dan Laksono Hari Wiwoho yang bertanggung jawab pada konten video. Di bawahnya terdapat Asisten Wakil Pemimpin Redaksi, lalu Kepala Editor yang terbagi ke berbagai desk, seperti Megapolitan, Nasional, Edukasi, hingga Travel. Struktur itu kemudian dilanjutkan oleh para asisten editor, reporter, dan ratusan kontributor yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Rutinitas Liputan yang Melelahkan
Mas David menggambarkan bagaimana setiap malam para reporter diminta melaporkan rencana liputan mereka untuk keesokan harinya. Dari situ, editor dan asisten editor akan memberikan masukan mengenai kelayakan liputan, sudut pandang yang diambil, hingga sensitivitas isu yang diangkat.
“Setiap malam itu teman-teman reporter diminta untuk memberitahu apa yang akan dilakukan besok paginya,” ujar Mas David. “Asisten editor atau editor akan mengumpulkan sekaligus memberikan masukan, kira-kira liputan apa yang pantas untuk diambil, angle-nya apa, sensitivitasnya sejauh apa.”
Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, lebih spesifik sebagai anggota Bengkel Jurnalistik, proses ini ternyata tidak jauh berbeda dengan kami yang terbiasa menulis atau menyunting teks, tetapi dengan tenggat yang jauh lebih ketat.
Mas David juga memaparkan titik-titik liputan strategis di wilayah Jakarta, mulai dari Polda Metro Jaya, Balai Kota Jakarta, Pasar Minggu, hingga Bandara Soekarno-Hatta. Setiap lokasi memiliki dinamika dan tantangan tersendiri, yang menuntut kesiapan fisik dan mental para reporter.
Ia tak menampik bahwa ritme kerja di media daring, khususnya di Ibu Kota, sangat melelahkan. “Capek pikiran, capek tenaga, belum lagi dimarahin sama editor,” katanya sambil tertawa. Persaingan antarmedia yang berlangsung dalam hitungan detik membuat wartawan dituntut untuk bergerak cepat tanpa mengorbankan akurasi. Dalam situasi seperti itu, kesabaran dan keingintahuan menjadi modal penting bagi seorang jurnalis.
Baca Juga: Jika Aku Bukan Akhirnya
Pentingnya Jaringan dan Relasi
Selain kecepatan, Mas David menekankan pentingnya jaringan dan relasi dalam dunia jurnalistik. Ia bercerita, bahkan di desk Megapolitan, seorang wartawan perlu menyimpan kontak ketua RT hingga lurah dan camat. Jaringan tersebut menjadi pintu awal untuk memperoleh informasi dari sumber yang memiliki otoritas di wilayahnya. “Kita nggak tahu kapan berita itu ada dan sebesar apa,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa jurnalisme bukan hanya soal menulis, melainkan juga soal membangun kepercayaan dan relasi sosial.
Perbedaan Media Online vs Cetak
Perbedaan antara media daring (online) dan media cetak juga menjadi salah satu poin penting yang disampaikan. Menurut Mas David, judul dalam media online harus “dibayar tuntas” di dalam lead berita. Pembaca daring tidak memiliki banyak waktu; mereka datang untuk mencari inti informasi secepat mungkin.
Setelah berdiskusi di lantai bawah, kami diajak untuk mengunjungi kantor Kompas.com. Memasuki area kantor Kompas.com, kesan pertama yang muncul adalah kesibukan yang tertata. Layar-layar komputer menyala dengan berbagai informasi, sementara suara ketikan berpadu dengan diskusi singkat antarsesama di redaksi. Ruang ini tidak hanya dipenuhi oleh berita yang sedang dikerjakan, tetapi juga oleh proses berpikir yang terus bergerak. Bagi mahasiswa Sastra Indonesia, ruang redaksi Kompas.com menghadirkan pengalaman baru: melihat secara langsung bagaimana kata disusun, disunting, dan akhirnya disampaikan kepada pembaca sebagai berita.

Sebuah Refleksi
Sebagai pembuka rangkaian study tour, pengalaman ini menjadi landasan awal bagi kami untuk memahami bagaimana sastra, bahasa, dan jurnalisme saling bersinggungan dalam praktik nyata.
Dari ruang redaksi Kompas.com, kami belajar bahwa kata bukan sekadar alat ekspresi, melainkan juga medium informasi yang bergerak cepat, berpacu dengan waktu, dan berhadapan langsung dengan realitas sosial. Pengalaman ini adalah sebuah pelajaran berharga yang akan kami bawa saat melangkah ke ruang-ruang berikutnya dalam perjalanan study tour ini.
Editor: Helena Setiasari
