Berhentilah menunjuk tubuhku,
seolah ia alasan bagi kebiadabanmu.
Berhentilah mengukur nilai perempuan,
dari panjang kain dan arah pandangan.
Tubuhku bukan kartu undangan,
bukan pengakuan,
bukan alasan bagi kekerasan yang kau sembunyikan –
di balik kata khilaf,
hingga tak ada permintaan maaf.
Aku mati di dunia,
yang lebih cepat menyalahkanku,
daripada menegur mata dan tanganmu,
yang lebih sibuk mengatur pakaianku,
daripada menghentikan tindak najismu.
Dengarlah sialan.
Aku tidak lahir untuk menjadi korban kesalahan,
aku tidak diciptakan untuk dipatahkan,
tubuhku bukan ladang bebas yang bisa kau jajah,
bukan pula ruang kosong tanpa kehendak.
Aku masih mampu berdiri hari ini,
bukan karena aku tak terluka.
Tapi karena aku menolak hancur –
dan gugur.
