Kata “skena” sepertinya tidak asing lagi di zaman sekarang. Segala jenis tren mulai berkembang dan sering diminati, terutama oleh kalangan Gen Z. Istilah “skena” muncul belakangan ini dan cukup ramai menjadi perbincangan anak muda.
Kata “skena” dalam istilah gaul merujuk pada dua hal, yaitu akronim dari “sua, cengkerama, dan kelana”, yang berarti perkumpulan orang yang suka bertemu, mengobrol, dan berjalan-jalan. Selain itu, “skena” juga merupakan serapan dari kata scene (bahasa Inggris) yang artinya ‘komunitas atau subkultur tertentu yang berpusat pada minat yang sama, seperti musik, seni, atau gaya hidup’ (Gemini AI).
Saat mendengar kata “skena”, satu hal yang langsung terpikirkan biasanya adalah outfit atau gaya berpakaian. Gaya berpakaian anak skena sangat nyentrik, dan pertama melihatnya pasti bisa langsung mengenal kalau, “Wah itu pasti anak skena!” atau “Skena banget yang dia.” Itulah komentar yang sering terdengar saat melihat gaya anak skena.
Gaya berpakaian skena yang menjadi fenomena outfit kian menjamur di kalangan mahasiswa. Outfit skena ini bukan sekadar tren berpakaian. Bagi sebagian pecinta skena, hal tersebut juga menjadi cerminan cara generasi muda mengekspresikan identitas diri di tengah arus budaya populer yang terus berubah. Ciri khas gaya berpakaian ala skena, yaitu celana longgar, kaos band vintage, sepatu chunky, serta aksesoris bergaya retro yang menjadi simbol kebebasan berekspresi dan perlawanan terhadap standar berpakaian yang biasanya dianggap terlalu formal karena skena lebih santai penggunaannya.
Bagi sebagian mahasiswa, outfit skena adalah bentuk pernyataan sikap ingin tampil “beda”, anti mainstream, dan berani menolak arus. Namun, terkadang ironisnya dalam upaya tampil unik, banyak yang akhirnya terlihat sama, yaitu sama-sama ingin tampak berbeda. Meski begitu, skena masih menjadi jati diri di semua kalangannya.
Baca juga: Kami Bukan Malas, Lulus Kuliah Delapan Semester Maih Tetap Tepat Waktu
Selain gaya berpakaian, skena adalah ruang bagi penikmatnya untuk mencari dan menemukan hal-hal yang digemari. Mereka senang bertemu untuk sekadar mengobrol di tempat ngopi, mencari ketenangan di panggung gigs hingga di jalanan larut malam. Upaya seperti ini menjadi bentuk identitas diri dan kenyamanan seorang skena yang senang berkelana, atau wujud lain dari sebuah melankolis.
Dari fenomena yang menjamur ini juga terlihat bagaimana peran sebuah media sosial yang juga memengaruhi selera estetika generasi muda. Apa yang dulu dianggap “aneh” atau tidak umum, kini telah menjadi gaya utama berkat algoritma dan influencer yang menjadikan gaya skena sebagai estetika populer. Selain gaya 80-an yang dulu populer, saat ini skena juga tak kalah terkenalnya.
Hingga saat ini, tak sedikit mahasiswa yang akhirnya menggunakan gaya skena bukan karena ideologi atau ketertarikan pada subkultur asalnya, melainkan karena mengikuti tren visual yang sedang naik daun di TikTok atau Instagram. Meski begitu, tidak ada yang salah dari itu. Bentuk pengekspresian diri banyak ragam caranya, dan sebuah usaha tampil beda juga termasuk bentuk pencarian jati diri. Dunia mode selalu bergerak dari satu arus ke arus lain, dan setiap generasi punya caranya sendiri untuk mendefinisikan makna gaya. Oleh karena itu, semangat outfit skena dan segala identiknya seharusnya tidak berhenti pada penampilan luar semata, tetapi juga membawa nilai orisinalitas, keberanian, dan kebebasan berpikir, yaitu sesuatu yang justru sangat relevan dengan semangat mahasiswa itu sendiri.
Editor: Helena Setiasari