Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain rishi dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/katakars/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Drama Korea (2026) “Can This Love Be Translated?” : Antara Bahasa dan Cinta - KataKarsa

Drama Korea (2026) “Can This Love Be Translated?” : Antara Bahasa dan Cinta

“Ada berapa banyak bahasa di dunia?”

“Setahuku, lebih dari 7.100 bahasa”

“Salah, bukan itu. Jumlah bahasa sama dengan manusia di dunia. Setiap orang memiliki bahasanya sendiri. Makanya mereka sering salah paham, salah menafsirkan, dan saling menyinggung.”

Drama Korea Can This Love Be Translated? merupakan drama terbaru yang disutradarai oleh Yo Young Eun  yang tayang perdana di Netflix pada 16 Januari yang lalu. Drama ini dibintangi oleh Kim Seon-ho dan Go Youn-jung dan sukses menyita perhatian. Drama tersebut terdiri atas 12 episode, dengan durasi lebih dari satu jam pada setiap episodenya. Genre drama ini adalah komedi romantis. Drama ini mengisahkan hubungan Joo Ho-jin, seorang penerjemah jenius yang tenang dan tegas, dengan Cha Mu-hee, seorang aktris yang terbiasa tampil baik-baik saja dan selalu berusaha tampil ceria, padahal sebenarnya ada bagian yang hancur dalam dirinya serta trauma masa kecil yang sengaja ia tutupi.

Drama ini dikemas begitu baik. Kesan yang dapat disimpan dalam hati begitu banyak. Selain itu, drama ini juga dikemas begitu menggemaskan dan cukup relevan dengan permasalahan yang kerap dialami oleh anak muda saat ini.

Sebenarnya, inti dari drama ini tentang sisi lain dari proses mencintai. Mencintai tidak segampang itu. Mencintai sama seperti membaca sebuah karya sastra lama. Tidak tergesa-gesa untuk paham, pelan-pelan, dan tidak harus mengerti hanya dalam sekali baca. Proses mencintai, tidak cukup hanya bermodalkan perasaan cinta saja. Berani mencintai seseorang, berarti harus mau mengusahakan, mengerti, dan saling melengkapi agar cinta tetap terpelihara.

Namun kenyataannya, banyak cinta yang harus gagal saat proses saling mencintai tersebut. Bukan karena kehilangan rasa, melainkan ada emosi dan luka yang muncul ketika sedang jatuh cinta. Hal itulah yang dirasakan oleh Cha Mu-hee. Perasaan cinta yang muncul dalam dirinya ketika bertemu dengan Jo Ho-jin, tanpa ia sadari justru membuat trauma masa kecilnya kembali muncul dan justru merepotkan dirinya dan Jo Ho-jin, lelaki yang ia cintai. Mu-hee  ingin dicintai, tetapi ia juga sangat takut dengan proses mencintai. Ia mencintai sambil bersiap kehilangan. Ia merasa tidak layak karena masa lalunya, sehingga ia beberapa kali harus kehilangan Ho-jin karena tidak mengerti apa yang perasaannya inginkan.

Baca juga; Film Pendek “Kembali Pulang” (2025): Ketika Komersial Menyentuh Makna Emosional Kemanusiaan

Drama ini sebenarnya cukup relate dengan kehidupan para orang muda saat ini. Banyak anak muda beranggapan bahwa ketika kita mencintai dan memiliki hubungan dengan seseorang, kita harus memahami pasangan satu sama lain. Padahal, langkah awal dari mencintai seseorang adalah dengan lebih dahulu selesai mencintai diri sendiri, agar hubungan yang dijalani bersama orang yang dicintai dapat terjalin dengan baik.

Bahasa cinta adalah bahasa paling sulit untuk dimengerti

Kisah mereka terjadi secara tidak sengaja, ketika mereka pertama kali bertemu di Jepang, saat Mu-hee mengunjungi mantan pacarnya untuk meminta penjelasan atas hubungan mereka. Namun siapa sangka, pertemuan tersebut justru menjadi awal dari kisah tentang mereka, yang kemudian menempatkan mereka dalam projek syuting yang sama dan pergi ke beberapa negara bersama sebagai rekan kerja.

Melihat sikap Jo Ho-jin pada episode awal, beberapa di antara kita pasti seperti sedang berkaca. Jo Ho-jin di episode awal berusaha selalu terlihat profesional dan enggan menunjukkan perasaan yang dirinya punya. Akibatnya, perempuan yang ia sukai, berakhir menjalin hubungan dengan kakaknya, sebab tak ada upaya menyatakan perasaan dari dirinya. Selain itu, meski menjadi seorang penerjemah yang jenius dan cekatan dalam menerjemahkan banyak bahasa, Ho-jin justru menjadi orang yang begitu lambat dalam memahami “bahasa cinta” yang selalu Mu-hee siratkan dalam interaksi mereka dan lambat dalam memahami perasaannya pada Mu-hee, kala itu.

Kisah yang terjadi antara mereka menegaskan satu hal, bahwa cinta seringkali nyaris gagal bukan karena hilang rasa, melainkan emosi dan luka yang tidak pernah diberi bahasa, sehingga menciptakan keputusasaan bagi satu sama lain.

Mencintai juga terkadang butuh jeda

Kisah Jo Ho-jin dan Cha Mu-hee adalah wujud nyata dari proses memahami bahasa cinta tersebut. Beberapa kali mereka harus berdiri berseberangan dan harus menjauh sejenak. Bukan karena mereka berhenti mencintai satu sama lain, tetapi terkadang mencintai juga butuh jeda. Jeda yang harus diambil untuk mengerti apa yang membuat mereka saling menyakiti ketika sedang bersama dan jeda untuk mempertanyakan perasaan mereka masing-masing. Setelah mengambil jeda, akhirnya mereka tahu bahwa cinta memang harus saling mengusahakan. Bukan hanya mengusahakan untuk memahami satu sama lain, tetapi juga mengusahakan untuk memperbaiki diri sendiri, kemudian melangkah untuk memahami satu sama lain.

Melalui kisah Jo Ho-jin dan Cha Mu-hee tersebut nyatanya, cinta pun tidak dapat menemukan bahasanya sendiri. Cinta baru dapat hadir ketika kita gigih memperjuangkannya, berusaha mengejarnya, dan ingin saling memahami. Cinta memang istimewa, tetapi cinta tanpa ada usaha pun tidak bermakna. Cinta baru dapat hadir, jika saling mencintai dan saling mengusahakan satu sama lain. Bukan hanya mengusahakan untuk mencintai pasangan, tetapi juga berusaha untuk lebih dahulu mencintai diri sendiri. Karena untuk dapat bersanding bersama seseorang seperti Ji Ho-jin, yang akhirnya mengusahakan apa pun tentang Cha Mu-hee, kamu harus  lebih dahulu segigih Cha Mu-hee, yang berani keluar dari keterpurukannya.

Editor: Sahira Diny Khairun Nisa

Thumbnail by Pinterest your world

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *